Di awal tahun 2021 ini banyak hal yang saya pikirkan. Mulai dari final yang akan segera dilaksanakan, dosen mata kuliah yang tak pernah masuk mengajar hingga hari ini, pendemi yang belum juga berakhir, hingga PLP dasar. Saya benar-benar kehilangan kesempatan untuk menulis. Jika pun ada, semangat saya hilang.
Saya betul-betul perlu refreshing untuk menyegarkan kembali pikiran saya. Caranya tak mungkin dengan liburan atau jalan-jalan, tidak! Situasi sekarang masih pandemi, lebih baik berdiam diri di rumah. Membaca blog pun menjadi cara saya untuk menghibur diri, di samping beribadah tentunya.
Di masa-masa itu, saya rajin membaca beberapa blog yang tentu saja penulisnya bukanlah orang sembarangan. Setidaknya ada dua blog yang rutin saya baca. Apa itu? Yakni blognya Bang Yusran Darmawan dan blognya Bang Agustinus Wibowo. Tulisan di blog Bang Yusran sudah pernah saya ulas pada tulisan sebelumnya. Sementara blognya Bang Agustinus ini terbilang masih baru saya ikuti, tetapi saya sudah sangat menyukai tulisan-tulisannya.
Agustinus Wibowo ini lahir di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, ia merupakan keturunan Tionghoa. Blognya berisi catatan perjalanannya mengelilingi dunia. Ya, berbagai negara telah ia datangi yang kemudian cerita, kisah, dan pengalamannya ia tuangkan dalam tulisan yang memikat. Sebagai orang yang juga bermimpi dapat berkeliling dunia, saya merasa bagaikan membuka jendela dunia dan berkelana bagai seorang musafir tatkala membaca tulisan Mas Agustinus, saya panggil Mas karena ia dari Jawa, hehe.
![]() |
| Tangkapan layar blognya Mas Agustinus |
Ia bercerita tentang budaya, agama, dan sejarah. Banyak hal yang ia ceritakan saat dirinya mengunjungi suatu negara. Saya terkesima membaca tulisannya, membayangkan saya berada di dalam cerita itu secara langsung. Di saat ia menceritakannya dirinya yang berada di pedalaman dengan orang-orang baru nan asing, dengan berbagai rintangan dan hal-hal yang mendebarkan, saya ikut deg-degan.
Melalui tulisannya di blog yang beralamat agustinuswibowo.com saya dapat mengetahui kisah-kisah penduduk nun jauh sana. Saya dapat mengetahui bahwa keturunan Jawa di Suriname ketika salat ada yang menghadap ke arah barat dan ada juga menghadap ke arah timur.
Awalnya saya membaca tulisan itu dalam hati berkata bahwa yang benar adalah ke arah barat. Namun hingga kemudian saya teruskan lagi membaca dan seketika saya paham bahwa Suriname berada di Amerika yang letaknya sebelah barat Jazirah Arab, atau dapat dikatakan Arab berada di timur. Saya tak ingin memikirkan lebih jauh persoalan ini. Saya hanya ingin menikmati pengalaman Agustinus dan hasil penelitiannya di Suriname.
Orang-orang Jawa sana masih mempertahankan budaya dari tanah leluhur mereka di Pulau Jawa, Indonesia. Yang saya ingat dan pahami, orang-orang Jawa bisa sampai ke Suriname jarena dipekerjakan oleh Belanda. Kemudian lambat laun mereka menetap dan beranak pinak di sana. Mereka secara umum berbahasa Jawa. Meskipun saya tak tahu pasti apakah generasi mudanya juga masih fasih berbahasa Jawa.
Di tulisan yang lain, Mas Agustinus bercerita tentang Papua Nugini. Sekeping kisahnya tentang kehidupan penduduk sana membuat saya merenung akan arti negara dan keadilan. Membaca tulisannya membuat saya teringat program televisi "Indonesiaku" yang tayang di Trans7, kenyataan yang memilukan. Saya merasakan kehangatan keluarga dan persaudaraan saat membaca kisahnya di Papua Nugini.
Sayangnya beberapa tulisannya di blog itu berbahasa Inggris jadi saya tak bisa membacanya, hehe. Bisa dibaca sih tetapi saya tak paham maknanya 😂. Meski begitu saya tetap suka blognya, edukatif. Oh iya, saya mengetahui blog Mas Agustinus dari blognya Mbak Wijayatnika, terima kasih Mbak karena sudah memberikan ulasan mengenai blog yang sering Mbak baca. Sungguh sebuah catatan perjalanan yang memikat.

0 Komentar
Silakan berkomentar dengan bijak dan santun. Penulis akan segera membalasnya. Terima kasih