Pada hari jumat 15 desember yang lalu saya mengikuti Musyawarah Besar Seventeen Community yang ke-12. Tempatnya berada di Perumahan Puri Kencana Sari depan Mtos Makassar. Saya akui lokasi Mubes cukup jauh dari kampus Unismuh apalagi dari rumah saya yang berada di Gowa. Dan jujur saya sebetulnya agak malas datang ke lokasi apalagi dengan kondisi saat ini yang dilanda pandemi corona.
Namun karena saya sudah mengiyakan untuk datang ke lokasi maka tentu saja saya wajib datang apa pun risikonya. Lagian saya ditunjuk sebagai pembaca doa sehingga kehadiran saya sangat diharapkan oleh senior-senior atau biasa dipanggil kakanda dan teman-teman yang lain. Saya harus berangkat, pikir saya saat itu.
![]() |
| Pamflet Mubes |
Saya berencana berangkat ke lokasi setelah salat duhur sebab acaranya diadakan pada pukul 15:30 WITA sehingga berangkat setelah salat duhur adalah waktu yang tepat agar saya tidak terlambat. Akan tetapi rencana tak seusai ekspektasi, di hari diadakannya Mubes saya mendapatkan kabar dari ketua tingkat bahwa pada pukul 2 siang akan ada perkuliahan yaitu mata kuliah teori sosiologi kritis dan postmodern.
Pupuslah rencana berangkat pas setelah salat duhur, hihihi. Apa boleh buat, saya mesti menuntaskan perkuliahan baru kemudian berangkat. Setelah perkuliahan, saya berangkatlah menuju kampus untuk menjemput Kak Abrianti. Sampai di sana, waktu sudah menghampiri pukul 15:30, maka saya pun berangkat sendiri sebab Kak Abrianti dijemput oleh teman yang lain.
Saya tengok peta google di ponsel pintar, seketika saya menghela napas. Yang benar saja, perjalanan ke sana satu jam lebih. Duh, saya akan terlambat sampai di sana. Di perjalanan saya ragu, apakah saya harus melanjutkan perjalanan atau memilih bergabung via zoom saja. Apa yang terjadi selanjutnya?
Saya tetap lanjut dong, dengan bermodalkan peta google dan dengan daya baterai ponsel yang sudah menghampiri 50% saya berkendara seorang diri di tengah hiruk pikuk Kota Makassar. Sesekali saya berhenti untuk memastikan apakah jalannya sudah betul atau tidak. Pernah saat itu saya sudah memasuki Jalan Batua Raya, sebenarnya cukup terus saja tetapi googe menunjukkan jalan yang tercepat maka saya melewati Jalan Toa Daeng III, nah di sinilah saya berputar-putar, saya sempat kehilangan semangat karena menemui jalan buntu tetapi saya tak mau menyerah, maka saya bertanyalah kepada orang-orang sana. Alhamdulillah saya bisa melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba di lokasi.
Sesampainya di lokasi, acara Mubes berada pada tahap pembacaan ART, saya betul-betul terlambat. ART atau Anggaran Rumah Tangga dibacakan oleh steering, sesekali dikoreksi oleh kakanda-kakanda yang hadir via zoom. Mubes pun terus berlanjut hingga tahap pemilihan ketua baru. Ternyata yang menjadi ketua barunya adalah Kak Abrianti. Dia adalah calon tunggal. Maka otomatis tinggal pemenuhan syarat jadi ketua saja dan pemaparan visi misi serta berbagai pertanyaan dari kakanda yang hadir.
Mubes pun ditutup dengan terpilihnya Kak Abrianti sebagai ketua baru Seventeen Community. Saya sebenarnya ingin berkata bahwa seharusnya Mubes ditutup dengan pembacaan doa, ehem ehem. Tetapi biarlah begitu, berjalan secara alami, hehehe. Setelah Mubes, saya, teman-teman, dan kakanda-kakanda berbincang-bincang sambil menikmati kue.
Saya punya harapan atas terpilihnya ketua baru. Saya berharap Seventeen Community semakin kompak, solid, dan semakin menguatkan kekeluargaan. Melalui regenerasi ini saya berharap agar Seventeen Community mencapai kemajuan. Semoga harapan itu terkabul.

0 Komentar
Silakan berkomentar dengan bijak dan santun. Penulis akan segera membalasnya. Terima kasih