Awal musim kemarau di tahun 2019 silam, kampung saya dilanda demam bunga. Masyarakat berbondong-bondong menanam dan memelihara bunga yang tengah eksis saat itu. Berbagai macam cara yang dilakukan untuk memperoleh bunga. Tunggu dulu, sudah betulkah bunga yang saya maksud ini? Haha, saya mengikut bahasa Makassar, jadi bunga yang dimaksud adalah tanaman hias.
Berbacai cara dilakukan untuk memperoleh bunga atau tanaman hias ini. Bagi yang punya uang lebih, kemungkinan terbesar akan membelinya, tahulah ibu-ibu kalau sudah suka sama sesuatu pasti tidak mau berpaling sampai-sampai rela menyisihkan uang untuk membelinya, bahkan bukan "disisihkan" lagi tetapi "direncanakan" haha. Bagi yang enggan mengeluarkan rupiah, jalan persaudaraan pun ditempuh alias meminta bunganya orang dengan narasi persaudaraan, perkawanan atau barangkali narasi tetangaan, ada-ada saja ya.
Namun tak semua orang mau mengeluarkan rupiah hanya untuk sebuah bunga, juga tak semua orang sudi berbagi bunga yang telah dianggapnya sebagai anak sendiri. Jadi bagaimana dong? Tenang saja, di kampung saya yang masih hijau nan sejuk tumbuh subur berbagai tumbuhan yang memiliki corak daun yang cukup cantik. Nah, tumbuhan liar itulah yang dijadikan bunga, menarik 'kan?
Tumbuhan yang dianggap hama secara tiba-tiba diburu orang untuk ditanam di vas-vas yang cantik. Bahkan banyak orang yang menjualnya di pinggir jalan raya. Tumbuhan yang saya maksud ini adalah sejenis talas yang banyak tumbuh secara liar. Memang sih warna daunnya cukup menarik tetapi tetap saja saya merasa heran, kok talas dijadikan bunga? Apakah tidak ada bunga yang lain? Haha.
![]() |
| Inilah tumbuhan liar sejenis talas yang saya maksud (dokumen pribadi) |
Meski saya dibuat heran dengan fenomena ini, setidaknya ada hikmah yang dapat kita petik. Pertama, jangan pernah menganggap remeh. Siapa sangka tumbuhan liar sejenis talas itu dapat diburu banyak orang, padahal sebelum-sebelumnya tumbuhan itu adalah hama. Jangankan di tanam di vas bunga, diperhatikan saja jarang. Bercermin dari hal itu kawan-kawan, kita jangan pernah meremehkan sesuatu, sebab kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Bisa jadi sesuatu yang kita remehkan hari ini ternyata diperhitungkan di hari esok.
Kedua, negeri kita begitu kaya. Coba kita pikirkan, sejenis talas itu saja yang tumbuh liar dapat menjadi tanaman hias. Masya Allah begitu kayanya negeri kita ini yang dianugerahi bentang alam serta flora yang unik-unik. Negara lain belum tentu tumbuhan liarnya jadi bunga, iya 'kan? Bersyukurlah dilahirkan di negeri ini kawan-kawan.
Ketiga, kehidupan itu dinamis. Artinya perubahan akan senantiasa terjadi, kehidupan akan terus bergerak dan mengalir bagaikan air sungai. Perkembangan akan terus ada baik itu secara lambat (evolusi) maupun cepat (revolusi). Roda kehidupan terus berputar, kita tak pernah tahu kejutan apa yang menanti kita di hari esok atau di masa depan. Oleh karena itulah sangat penting mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan dan risiko yang terjadi.
Keempat, menariklah agar dunia melirik. Andaikan tumbuhan liar sejenis talas itu memiliki daun yang biasa saja, hijau seperti daun kebanyakan maka berangkali tak ada yang mau meliriknya. Perlu keunikan maupun nilai lebih agar sesuatu itu dilirik, sebab jika biasa-biasa saja maka tak ada bedanya dengan yang lain, tak ada istimewanya. Sebagaimana dalam buku Jangan Mau Jadi Orang Rata-Rata karya Ahmad Rifa'i Rif'an yang mengatakan bahwa dunia hanya memerhatikan orang-orang yang tak biasa, jangan mau jadi orang rata-rata!
Jangankan kawan-kawan pembaca, saya pun ikut tersindir dengan buku karya Ahmad Rif'ai Rif'an ini, hehe. Namun hal itu bagus sebab dengan demikian kita menjadi sadar dan semoga kita menjadi orang-orang terus berbenah diri, introspeksi, dan terus mengembangkan bakat maupun kemampuan yang kita miliki.
Semoga kita semua dapat memetik hikmahnya ya.

0 Komentar
Silakan berkomentar dengan bijak dan santun. Penulis akan segera membalasnya. Terima kasih