Menyelami Fenomena Serumpun di Asia Tenggara

Bule: "Do you from Thailand?"

Saya: "No, I am not from Thailand"

Bule: "Oh, I know, hmm.. you are certainly from Myanmar, am I right?"

Saya: "No, I am not from Myanmar too"

Bule: "Oh, you from Malaysia?"

Saya: "No, let's try again!"

Bule: "Oh, I know, this is not wrong again, you from Cambodia?"

Saya: "No"

Bule: "I give up, where you from?"

Saya: "Indonesia"

Bule: "Indonesia, where is it? I don't know about Indonesia"

Saya: "Oh My God, you don't know Indonesia? How about Bali?"

Bule: "Bali, yeah, I like Bali. The beach is so beautiful, but is it Bali from Indonesia?"

***

Kebayang tidak, jika percakapan itu menjadi nyata? Hahaha lucu ya, meski percakapan itu hanya hasil imajinasi, tetapi nyatanya hal yang serupa juga sering terjadi di belahan bumi ini. Kenapa begitu ya? Padahal Indonesia adalah negara besar lo, dari segi pariwisatanya pun tidak kalah dengan negara-negara lain di Asia Tenggara, sebut saja Bali yang telah menjadi tempat wisata dunia, tapi kenapa tidak terkenal ya? Malahan negara-negara yang biasa-biasa saja dibandingkan dengan Indonesia justru lebih terkenal, sebut saja Myanmar dan Kamboja. Anehnya lagi, orang-orang dari luar negeri malah lebih mengenal Bali ketimbang negaranya sendiri yaitu Indonesia (aduh... parah nih, tiga kata untuk itu "Sungguh lucunya negeriku.")

Jangan salah paham dulu, yang akan kita bahas kali ini bukan masalah ketidak populeran Indonesia di mata para bule, tetapi mengenai alasan mengapa saya dalam percakapan dikira berasal dari negara-negara lain di Asia Tenggara. By the way, kalian tahu tidak negara di Asia Tenggara itu ada berapa? Selamat buat kalian yang jawab 11 negara, berarti kalian punya pengetahuan yang luas, yang jawabnya salah kayaknya harus belajar geografi atau IPS kembali kali ya (hehehe). Myanmar, Laos, Vietnam, Kamboja, Filipina, Thailand, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Indonesia, dan terakhir Timor Leste adalah 11 negara di kawasan Asia Tenggara. Sekilas negara-negara itu memang tampak berbeda, sangat berbeda, tetapi jika kita lihat dengan hati (ya elah pakai hati) maka akan tampaklah persamaannya. Berhubung karena saya bukan ahli sejarah, jadi saya akan memaparkan berdasarkan apa yang saya tahu saja, jadi selamat membaca ya! Dari seorang pencari cinta (upsss bercanda kali, serius amat).

Asia Tenggara (gambar dari kompas.com)

Kalian pernah tidak berpikir kenapa bahasa Indonesia memiliki kemiripan dengan bahasa yang digunakan oleh negara Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan wilayah selatan Thailand? Apa jawabannya? Karena bersuku Melayu? Yakin? Yakin saja atau yakin banget? Ya, betul sekali... selamat kamu mendapatkan dua juta rupiah dipotong pajak (hehehe, bercanda ya). Negara seperti Malaysia, Singapura, Brunei dan wilayah bagian selatan Thailand memang dihuni oleh suku Melayu. Di Indonesia sendiri, penyebaran suku Melayu cukup luas, biasanya terpusat di Sumatra dan Kalimantan, serta pulau-pulau di sekitarnya.

Salah satu faktor yang menyebabkan suku Melayu memiliki persebaran yang cukup luas adalah karena pada zaman pra penjajahan, banyak berdiri kerajaan Melayu, baik itu bercorak Hindu-Buddha maupun Islam. Misalnya saja Kerajaan Sriwijaya yang menjadi salah satu kerajaan terbesar di Asia Tenggara tempo itu. Kerajaan yang besar sering kali melakukan ekspansi atau perluasan wilayah, yang menyebabkan tak sedikit penduduknya yang berpindah tempat maupun budayanya yang terserap ke suku lain. Ditambah lagi kebijakan penjajah dahulu yang seringkali mengirimkan tenaga kerja yang biasanya penduduk sebuah kerajaan untuk bekerja di sebuah tempat atau wilayah. Namun, itu semua kembali lagi dari sejarah proses penyebaran di zaman dahulu serta tingkat fertilitas suatu suku bangsa yang berkontribusi besar dalam hal tersebut. 

Kembali ke persoalan bahasa, bahasa Indonesia sebenarnya berasal dari bahasa Melayu, tepatnya Melayu Riau. Mengapa bahasa Melayu yang dijadikan bahasa Indonesia? Karena pada zaman dahulunya, bahasa Melayu telah menjadi bahasa perantara di Nusantara dalam hal perdagangan. Ditambah lagi adanya kebijakan dari Jepang yang turut menyebar luaskan pemakaian bahasa Melayu sebagai identitas nasional. Maka tak ayal bila antara bahasa Indonesia dengan bahasa di beberapa negara yang saya sebutkan tadi sangat mirip.

Selain Bahasa, budaya pun juga demikian. Kalian pernah nonton film kartun Upin dan Ipin, tidak? Film dari negeri jirang Malaysia ini memang telah mendapat tempat tersendiri di hati anak-anak Indonesia, tapi kita tidak akan membahas perihal kepala Upin dan Ipin yang botak ya, melainkan isi cerita di salah satu episodenya. Di salah satu episodenya (saya lupa judulnya) menceritakan Susanti (asal Indonesia) yang lagi membacakan dongeng Malin Kundang asal Indonesia (Sumatra Barat), lantas si dua botak ini (Upin dan Ipin) protes, lah kok ceritanya sama dengan dongeng Si Tanggang. Nah, ternyata nih sama saja, usut punya usut cerita Malin Kundang bukan hanya ada di Indonesia saja, melainkan ada juga di Malaysia yaitu Si Tanggang, bahkan Brunei Darussalam yaitu Nakhoda Manis. Sampai di sini, tentu kita sudah bisa meraba-raba (apaan diraba-raba, kayak apaan saja) kalau Indonesia punya ikatan yang kuat dengan Asia Tenggara atau istilahnya serumpun. Setuju?

Itu kan cuma di Asia Tenggara kepulauan atau maritim saja? Bagaimana yang daratan? Tenang, tulisan ini belum selesai kok (slow saja kayak di pantai). Daratan Asia Tenggara, biasa dikenal dengan istilah Indocina, istilah ini awalnya hanya diperuntukkan untuk Laos, Vietnam, Kamboja saja atau secara singkatnya untuk bekas jajahan Perancis di Asia Tenggara, namun seiring perkembangan, Myanmar dan Thailand juga dikategorikan. Mengapa dikategorikan? Karena istilah Indocina dewasa ini, bukan hanya untuk negara-negara bekas jajahan Perancis, tetapi juga merujuk pada negara-negara di kawasan Asia Tenggara daratan yang budayanya dipengaruhi oleh budaya India dan Cina. Makanya, Myanmar dan Thailand dikategorikan sebagai negara Indocina. 

Lah, Malaysia kan letaknya masih di daratan Asia Tenggara, kok tidak dikategorikan sih? Untuk Malaysia, walau Malaysia bagian barat berada di Asia Tenggara daratan, tetapi bagian timur letaknya di pulau Kalimantan, jadi tidak termasuk. Selain itu, dalam hal kebudayaan, sudah jauh dari pengaruh India dan Cina, akibat adanya proses Islamisasi pada zaman dahulu. Nah, kita akan mencari persamaan Indonesia dengan negara-negara di daratan Asia Tenggara tersebut. Let's traveling to Southeast Asia!

Kita beranjak ke Kamboja, negara ini dulunya bekas Kerajaan Khmer. Kerajaan Khmer tempo dulu wilayahnya cukup luas, meliputi Kamboja dan Thailand. Kalau berkunjung ke Kamboja, kita akan menjumpai sebuah candi yang terkenal di sana bernama Angkor Wat, saking terkenalnya Angkor Wat, sampai-sampai bendera kebangsaan Kamboja terdapat gambar Angkor Wat. Tahu tidak, jika banyak orang-orang yang berspekulasi bahwa Angkor Wat mirip Candi Borobudur dan Candi Prambanan dari Indonesia? Masa? Pasti bercanda 'kan? Kalau tidak percaya, lihat saja gambarnya.


Angkor Wat (gambar dari wikipedia.org)

Mirip banget 'kan, kenapa begitu ya? Apa hubungan antara Angkor Wat dengan Borobudur serta Prambanan? Apa jangan-jangan Angkor Wat dibuat oleh orang Indonesia yang hijrah ke Kamboja atau orang Kamboja yang berguru di Indonesia? Entahlah, kalau menurutku sih, kemiripan antara Angkor Wat dengan candi Borobudur maupun Prambanan lebih disebabkan karena sama-sama hasil peninggalan kebudayaan Hindu-Buddha dari India yang telah berakulturasi dengan budaya setempat, jadi agak mirip-mirip begitu. Tetapi, ternyata nih jauh sebelum berdirinya Angkor Wat, Borobudur telah lama dibangun di Pulau Jawa. Cukup lama, sampai beberapa abad begitu. Hal itulah membuat banyak ahli sejarah yang menduga jika Angkor Wat terinspirasi dari Borobudur ataupun candi-candi lainnya di Indonesia. Setuju enggak kalian?

 

Selain itu, kesamaannya juga dapat kita lihat dari aksara kuno dan nama-nama raja di dua negara tersebut. Aksara Pallawa menjadi aksara yang dominan dipakai, dengan bahasa sanskerta, di samping bahasa lokal masing-masing daerah. Dengan adanya kesamaan bahasa tersebut, membuat dua kerajaan dapat saling berkomunikasi dan menjalin perdagangan antara satu dengan yang lainnya. 

Jayawarman, Suryawarman, Yasowarman, sepintas terdengar seperti nama-nama raja di kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, namun faktanya itu adalah nama-nama raja dari Khmer. Di Indonesia sendiri ada Mulawarman, Aswawarman, Purnawarman, dan masih banyak lagi. Bahkan nih banyak yang menduga jika Khmer masih memiliki ikatan keturunan dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Puas ke Kamboja, kita beralih ke Vietnam. Let’s to read!

Mendengar kata “Vietnam” sudah tentu memori kita akan tertuju pada perang Vietnam yang pernah meletus antara Vietnam bagian utara dan selatan. Namun tahukah kalian jika di Vietnam tempo dulu pernah berdiri sebuah kerajaan besar yang turut memberikan sumbangsih terhadap penyebaran agama Islam di Indonesia, tepatnya di Pulau Jawa? Pasti kebanyakan dari kalian tidak percaya, bagaimana ceritanya negara yang sekarang mayoritas non Islam punya kerajaan beragama Islam? (Hahaha, ya bisalah, apa sih yang tidak bisa di dunia ini).

Kerajaan itu bernama Kerajaan Champa, yang wilayahnya meliputi wilayah Vietnam saat ini. Pernikahan Raja Majapahit dengan Putri Champa tempo dulu adalah salah satu bukti kedekatan diantara keduanya. Hebatnya lagi berkat pernikahan tersebut, membuat penyebaran Islam semakin pesat di pulau Jawa, karena tentu saja Kerajaan Champa telah memeluk Islam.

Di balik kebesaran Kerajaan Champa dahulu, ternyata tak berbanding lurus dengan realita yang terjadi sekarang ini. Bagi yang sering traveling ke Vietnam, maka akan sulit menemui penduduk Vietnam keturunan Champa lagi, karena populasi mereka sangat sedikit ketimbang orang-orang Viet (Vietnam sekarang) yang menjadi mayoritas. Berkurangnya populasi mereka disebabkan dahulu, orang-orang Champa diserang oleh orang-orang Viet yang berasal dari wilayah selatan Tiongkok. Kini, mereka menjadi minoritas di tanah sendiri. Oh ya, ternyata orang-orang Champa sangat dekat lo dengan orang-orang Nusantara dari segi tampilan fisik, bahkan banyak orang-orang Aceh keturunan Champa, sampai-sampai turut mempengaruhi bahasa Aceh.

Bosan bicara kerajaan, kita beralih ke Myanmar melihat budayanya yang mirip dengan orang Indonesia. Tahu bedak Tanaka? Longyi? Apa… tidak tahu, kemana saja, masa begituan tidak tahu, malu dong (Hehehe). Tanaka adalah bedak yang terbuat dari kulit kayu tanaka, yang dibuat sedemikian rupa. Bedak ini dipakai bukan hanya wanita tetapi juga pria. Gunanya sih, supaya kulit tidak gosong kena matahari. Di Indonesia juga ada lo bedak beginian, hanya saja bahan bakunya dari beras yang biasa dipakai petani ketika musim panen padi. Orang Makassar sering menyebutnya “Ba’ra’ basa” yang artinya bedak basah. Sementara di Kalimantan disebut bedak dingin oleh suku Dayak, dan daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Kalau longyi adalah sarung khas yang dipakai oleh orang Myanmar setiap saat. Bayangin kalau kita harus pakai sarung setiap saat (kayak tidak ada celana saja, hehehe), pasti cukup merepotkan ‘kan? Tetapi bagi orang-orang Myanmar, itu sudah menjadi sebuah budaya. Sarung longyi sendiri terlihat sama dengan sarung khas Indonesia pada umumnya, cuma corak yang membedakan. Selain itu, kalau di Myanmar, longyi atau sarung dipakai layaknya sebuah celana dan pada upacara-upacara keagamaan mereka, sedangkan di Indonesia sarung hanya dipakai dalam kegiatan-kegiatan tertentu saja, misalnya kegiatan peribadatan.

Selain bedak tanaka dan longyi, di Myanmar budaya mengunyah sirih masih ada dan tetap dipertahankan. Budaya mengunyah sirih bukan hanya dilakukan oleh penduduk desa saja lo, tetapi juga yang ada di kota. Bahkan tak jarang dijumpai orang-orang Myanmar yang memakai longyi, wajah berbedak tanaka serta mengunyah sirih sambil membawa payung di tengah terik matahari. Andai itu di Indonesia, bisa-bisa diketawain kali ya, pasalnya pemandangan itu agak tidak wajar di Indonesia.

Kalau berbicara persamaan antara negara-negara di Asia Tenggara memang tidak akan habisnya, walaupun banyak juga perbedaannya. Selain negara-negara bersuku Melayu, ternyata bahasa Indonesia juga ada kemiripannya dengan bahasa Filipina. Kenapa bisa? Karena bahasa Indonesia dengan Filipina serumpun yakni bahasa Austronesia. Sebagai contoh kata “Aku” dalam bahasa Indonesia, disebutnya “Ako,” agak mirip ‘kan?

Sebenarnya selain Filipina dan negara-negara bersuku Melayu lainnya, bahasa negara-negara di Indocina masih satu induk, yaitu bahasa austrik yang menghasilkan dua cabang bahasa yakni Austronesia dan Austroasia, walaupun kalau dibandingkan tidak ada mirip-miripnya (hehehe). Austronesia meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, dan Timor Leste, sedangkan Austroasia meliputi Myanmar, Kamboja, Thailand, Laos, dan Vietnam.

Untuk aksara sendiri, walau dahulu aksara yang dominan dipakai oleh masyarakat Asia Tenggara adalah aksara pallawa dari India dan sebagian lagi aksara hanzi Cina, tetapi setelah mengalami perkembangan, aksara pallawa pun tergantikan dengan aksara-aksara masing-masing negara tersebut, walaupun masih berinduk dari aksara pallawa dan aksara hanzi.

Ciri fisik pun seperti itu, hampir keseluruhan orang-orang Asia Tenggara mirip-mirip ciri fisiknya. Orang Asia Tenggara yang umumnya dikenal adalah muka bulat, hidung lebar, rambut hitam lurus, dan kulit sawo matang sampai kuning langsat. Tetapi, nyatanya tidak sesederhana itu, karena Asia Tenggara dulunya banyak terjadi percampuran gen disebabkan kawin campur. Bahkan di Indonesia saja keberagaman fisik sudah menjadi sebuah kewajaran, coba saja bandingkan ciri fisik orang-orang Indonesia dari Sabang sampai Merauke, maka akan kentara perbedaanya. Namun, secara umumnya orang-orang di Indocina sekarang kalau kita lihat lebih mirip Cina. Bahkan ada lo yang Cina banget, yaitu Vietnam. Kemiripan itu terjadi karena letak Indocina yang berbatasan langsung dengan daratan Cina, seperti Myanmar, Laos, dan Vietnam.


Selain itu, banyak pula suku-suku di sana yang datang langsung dari Cina Selatan dan masih asli dalam artian tidak kawin campur. Sedangkan di kepulauan Asia Tenggara justru lebih kental aksen wajah melayunya, dengan kulit yang lebih gelap, mungkin karena bercampur dengan orang Melanesoid ataupun Veddoid. Namun, secara keseluruhan ciri-ciri fisik kita di Asia Tenggara masih mirip, kecuali orang-orang asli Papua, orang Semang di Malaysia dan serumpunnya.


Di Asia Tenggara, terdapat beberapa suku yang memiliki budaya unik dan bahkan tergolong ekstrem. Di Indonesia ada suku Dayak yang punya budaya menato dan memanjangkan telinga. Suku Dayak sendiri tinggal di Kalimantan, mereka terdiri atas beragam subsuku yang mendiami sebagian besar pulau Kalimantan. Sementara di Thailand, ada suku Karen yang punya leher yang panjang sebagai simbol kecantikan. Suku Karen di Thailand bukanlah suku asli di sana, melainkan suku dari Tibet yang kemudian bermigrasi disebabkan terdesak oleh suku lain dan konflik dengan pemerintah.

Beda lagi dengan Myanmar, di negeri seribu pagoda ini ada suku Chin yang suku menato wajah dan memanjangkan telinga. Menurut cerita, budaya menato wajah dalam suku Chin disebabkan karena dahulu banyak gadis-gadis suku Chin yang diculik oleh suku lain maupun pihak kerajaan untuk dijadikan isteri, hal itu karena wanita suku Chin mempunyai paras yang cantik. Nah, agar kejadian tersebut tidak terulang lagi, suku Chin kemudian menato wajah para wanitanya, dengan harapan tak ada lagi yang menculik wanita suku Chin. 

Dengan begitu banyak persamaan ini, pantaskah dikatakan Asia Tenggara serumpun? Pantaskah Indonesia serumpun dengan negara-negara di Asia Tengara? Kembali lagi dari sudut mana kita memandang. Jelasnya, penduduk Asia Tenggara awalnya berasal dari nenek moyang yang sama, namun karena perkawinan campuran, menyebabkan perbedaan di antara negara-negara di Asia Tenggara. Ada yang mirip Cina, India, Arab, bahkan Eropa. Well, satu hal yang tak dapat dibantah lagi jika Asia Tenggara memang serumpun, pasalnya dari keturunan yang sama yakni dari Nabi Adam dan Siti Hawa, :P.

Posting Komentar

0 Komentar