Saya ucapkan selamat bagi kamu, iya, kamu yang kini sudah memasuki dunia perkuliahan. Bagaimana rasanya? Bangga? Bahagia? Atau biasa saja? Apa pun rasanya kamu mesti bangga pada statusmu sekarang sebagai seorang agent of change atau agen perubahan, cie. Oh iya saya juga mau menyapa kakak-kakak senior yang sudah lulus, selamat ya Kak karena sudah selangkah lebih maju. Serta bagi calon-calon mahasiwa, hmmm aku sarankan sih tak usah baca tulisan ini, tetapi karena sudah mampir ke sini ya sudah deh, hehe, semangat menggapai mimpi ya!
Mengapa saya semangat sekali menyapa para mahasiswa, mantan mahasiswa (cie yang ingat mantan, haha), serta calon mahasiswa? Karena topik yang akan kita bahas ini erat kaitannya dengan mereka. Penasaran? Ah pasti banyak yang tak lagi penasaran nih, pastilah sebab sudah tahu judulnya, hihi. Ya, topik kita adalah "Sisi Buruk Dosen dalam Pandangan Mahasiswa," ih syerem ya.
![]() |
| Ilustrasi (gambar dari pixabay.com/ulrichw) |
Memangnya dosen seburuk itukah sampai-sampai topik begini dibahas? Enggaklah, ini bukan menggeneralisir atau menyamaratakan dosen, banyak kok dosen yang baik dan berpendirian. Hanya saja ibarat uang koin, pastilah terdapat sisi baik dan sisi buruknya, iya 'kan? Nah, kebetulan karena saya mendapatkan bacaan yang menarik di ipusnas tentang hal ini maka saya ingin bagikan.
Dalam buku digital yang berjudul Karakter Dosen di Mata Mahasiswa karya Wipti Lazuardi saya menemukan informasi tentang sisi buruk dosen dalam perspektif mahasiswa. Meskipun isi buku ini cukup singkat tetapi karena informasinya yang ngena banget makanya saya cukup antusias membacanya. Apa saja sisi buruk dosen dalam pandangan mahasiswa menurut buku itu?
![]() |
| Sampul buku (gambar dari ipusnas) |
Pertama, memaksa tepat waktu kuliah, tetapi sendirinya suka telat. Ada yang dapat dosen seperti ini? Hehe, di awal kuliah menetapkan peraturan bahwa tak boleh terlambat datang atau jika melewati batas waktu keterlambatan maka tak diperkenankan mengikuti perkuliahan. Wah, kita pasti sudah yakin sekali bahwa dosennya merupakan orang yang disiplin waktu.
Namun eh kok malah dosennya yang terlambat. Duh kalau begini saya pun sebagai mahasiswa juga malulah. Terlambat sekali mungkin boleh ditoleransilah ya, siapa tahu dosennya macet di jalan atau apalah. Masih boleh diterima yang seperti ini, tetapi kalau terlalu sering patut dikeluhkan. Masa dosennya menetapkan peraturan tetapi malah dilanggar sendiri, contoh yang buruk 'kan?
Bersyukurlah kalian yang punya dosen yang disiplin waktu, teladan tuh. Dosen seperti ini adalah dosen yang patut dicontoh, meski sebenarnya kita tahu bahwa dosen punya banyak kesibukan tetapi dengan disiplin waktu akan menjadi nilai lebih baginya. Kalian tak boleh kalah ya, masa dosennya disiplin waktu sedangkan mahasiswanya terlambat melulu, malu atuh.
Kedua, Memberi tugas dengan batas pengumpulan yang pendek dan tak mau tahu mata kuliah lain. Kesal nggak sih diberikan tugas oleh dosen dengan batas waktu pengumpulan yang pendek? Kalau saya sendiri jelas kesal dong. Bukan karena kita manja dan tak mau menerima tantangan ya, tetapi karena pendeknya waktu pengerjaan itu seringkali membuat hasil tugas menjadi tak maksimal karena dikerjakan terburu-buru. Belum lagi mata kuliah lain yang juga memberikan tugas di hari itu, dan jangan lupakan juga bahwa mahasiswa tentu punya kesibukan tersendiri semisal membantu orang tua, ikut kegiatan organsisasi, atau bahkan bekerja.
Sisi baik dari pemberian tugas dengan deadline yang pendek ialah mahasiswa dilatih untuk Gercep atau gerak cepat, cepat berpikir dan cepat bertindak. Dengan begitu, mahasiswa lebih sigap dan peka dalam mengambil keputusan dan memiliki etos kerja yang tinggi. Jadi mahasiswa itu tak boleh selalu mengeluh jika diberi tugas dengan batas waktu pengumpulan yang singkat ya, sebab hal itu akan menjadi latihan bagi kita untuk menghadapi segala tantangan dan dinamika kehidupan yang begitu cepat.
Ketiga, suka memberi kelas pengganti dadakan. Datang ke kampus pagi sekali, kuliah dimulai pukul 8 pagi. Sudah masuk waktu perkuliahan kenapa dosennya belum datang, ditunggu ternyata tak datang juga. Akhirnya balik ke indekos atau ke rumah yang jaraknya dari kampus lumayan jauh. Sesampainya di rumah istirahat, buka ponsel ada pesan dari dosen, dosennya mau masuk mengajar sebagai pengganti yang tadi pagi, astaga hanya bisa mengelus dada, sabar.
Kalau perkuliahan daring, ini juga sering, biasanya dosen memberikan informasi perkuliahan dadakan. Kita lagi tak aktif nih di whatssaap (cie yang masih setia dengan whatsapp kirain dah pindah ke telegram, haha) dan tak ada jadwal mata kuliah saat itu. Terus pas buka whatsaap Ya Allah kuliah sejam yang lalu. Dadakan banget, akhirnya alpa deh, kasihan. ðŸ˜
Keempat, suka melanggar kesepakatan waktu atau durasi perkuliahan tak sesuai dengan ketentuan. Ada yang merasa perkuliahan terasa lebih lama dari waktu yang telah ditentukan? Ada tidak yang kuliah seharusnya dua jam tetapi ternyata hingga tiga jam? Ada? Hehe, anggap saja itu bonus ilmu.
Atau mungkin ada yang durasi kuliahnya dua jam tetapi ternyata hanya kuliah sejam saja itu pun hanya masuk mengabsen dan memberikan tugas? Ada? Hayo mengaku saja! Di masa perkuliahan daring kita tak jarang menjumpai dosen seperti itu, hanya mengabsen dan memberikan tugas atau barangkali hanya memberikan tugas via google classroom dan tugas itu pun menjadi patokan presensinya.
Sisi baiknya, sang dosen melatih kita untuk belajar mandiri. Kuliah tak lagi sama dengan sekolah dahulu yang selalu "disuapi" oleh guru, saat kuliah kita dituntut untuk mandiri termasuk mandiri dalam belajar. Jadi meski tanpa disuruh, seorang mahasiswa idealnya mesti belajar, memperluas pengetahuannya. Sehingga walau dosen tak pernah memberikan materi sekalipun hanya tugas, kita tak ketinggalan jadinya.
***
Sebenarnya masih ada beberapa poin dalam buku itu tetapi tak saya ambil, cukup empat poin itu saja. Takutnya juga nanti kepanjangan, hehe. Sisi buruk dosen ini bukan mencela dosen ya, tetapi menjadi renungan bagi dosen untuk introspeksi diri. Sebab dosen juga manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan dosa.
Meski demikian, setidaknya kita dapat melihat sisi baik dari hal-hal yang tak disukai mahasiwa dari dosen. Ambillah hikmahnya dan jangan tiru yang buruknya ya. Semangat!


0 Komentar
Silakan berkomentar dengan bijak dan santun. Penulis akan segera membalasnya. Terima kasih