Mengapa Siswa Malas Mengerjakan Tugas Sekolah?

Dalam presentasi materi "metode pembelajaran," seorang kawan mengajukan pertanyaan. Kawan saya yang biasa disapa Fitri itu bertanya terkait metode pemberian tugas. Menurutnya banyak siswa yang malas mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru padahal pemberian tugas adalah salah satu dari metode pembelajaran. Jika siswa malas mengerjakan tugas maka pembelajaran pun terhambat. Jadi bagaimana caranya agar siswa bisa menjadi rajin? Tanyanya.

Ilustrasi (gambar dari pixabay.com)

Saya tertarik untuk menjawab pertanyaan itu, tetapi waktu itu tak sempat. Sehingga dijawab langsung oleh dosen saya sekaligus memberikan penjelasan terkait keseluruhan materi. Mengapa siswa malas mengerjakan tugas dan bagaimana solusinya? Saya mencatat tiga alasan siswa malas mengerjakan tugas:

Pertama, tugas terlalu banyak. Sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, iya 'kan? Begitu pula dengan tugas, jika tugasnya terlalu banyak maka siswanya juga akan malas mengerjakannya. Baru lihat tugasnya sudah buat jengkel, alhasil bukannya mengerjakan yang ada justru siswa enek. Apalagi bagi siswa yang mager alias malas gerak atau kaum rebahan yang sukanya menunda-nunda mengerjakan tugas, hihihi, malasnya tingkat tinggi.

Sebenarnya boleh-boleh saja mager atau rebahan, manusiawi kok, tetapi ada syaratnya. Yaitu tugas harus selesai terlebih dahulu dan jangan terlalu lama sebab kebiasaan itu membuat kita tidak produktif. Masih banyak hal-hal berfaedah yang dapat dilakukan misal dengan membaca buku, menulis atau apa pun itu yang penting positif.

Karena terlalu banyak tugas alhasil siswa jadi malas. Bagaimana tidak malas jika tugas melulu, kapan istirahatnya? Siswa juga manusia, bukan robot. Mereka harus diperlakukan semestinya dan manusiawi. Meski memang ada hikmah dan nilai yang ditanamkan dari tugas yang banyak itu tetapi tidak boleh juga berlebihan, iya 'kan? Iya dong.

Kedua, tidak paham. Bagaimana mau mengerjakan tugas sedangkan siswanya tidak paham, susah betul. Ini yang menjadi problem dasar bagi para siswa. Mereka ingin mengerjakan tugas, tetapi kendalanya ialah mereka tak paham. Misalnya siswa diberikan tugas mengamati lingkungan tempat tinggalnya kemudian menganalisis jenis mobilitas sosial yang terjadi. Bagaimana bisa siswa mengerjakannya sedang mereka tak paham mengenai mobilitas sosial.

Apa yang terjadi kemudian? Kemungkinan mereka menjadi malas, buat apa dikerja kalau tidak dipahami, pikir mereka. Bahkan jika dibiarkan akan tumbuh perilaku menyontek yang masif. Lebih dari itu, mungkin akan menjamur jawaban dari google.

Ketiga, lemahnya stimulus atau rangsangan. Dalam teori behavioritik, belajar adalah proses yang melibatkan stimulus (rangsangan) dan respon (tanggapan). Jadi ketika siswa malas mengerjakan tugas maka patut dipertanyakan kekuatan stimulusnya. Apa itu stimulus? Secara sederhana ialah hal-hal yang mampu merangsang atau membuat seseorang bertindak atau melakukan sesuatu. Nah hal yang dilakukan seseorang setelah distimulus itulah yang dinamakan respon atau tanggapan. Stimulus bisa berupa penghargaan atau hadiah maupun hukuman. Misalnya siswa yang mengerjakan tugas akan diberikan nilai yang bagus berarti stimulusnya adalah penghargaan berupa nilai. Bisa juga dengan memberikan hadiah apabila siswanya mampu mengerjakan tugas dengan baik, misal mendapatkan hadiah berupa buku bacaan.

Jika dengan hukuman, misalnya apabila tidak mengerjakan tugas maka siswa diberi hukuman berupa membersihkan jamban, atau mungkin hukuman yang lebih berat lagi sehingga siswanya jera. Namun yang perlu diingat bahwa hukumannya tidak boleh melewati batas kewajaran, tidak boleh berlebihan juga.

Biasanya hukuman membersihkanlah yang diberikan oleh guru. Saya ingat waktu saya masih duduk di bangku SMA, gara-gara terlambat saya mesti menyapu halaman sekolah bahkan disuruh berlari. Saya pun jera waktu itu dan tidak mau lagi mengulanginya. Pernah pula saya terlambat mengikuti upacara penaikan bendera, alhasil saya dan beberapa teman saya yang juga terlambat harus memisahkan diri dari barisan dan selepas upacara kami dijemur sambil disaksikan siswa-siswa yang lain. Memalukan memang tetapi itulah efek jeranya.

Selanjutnya bagaimana solusinya? Mudah saja, solusinya itu kebalikan dari alasan yang membuat siswa malas mengerjakan tugas. Ada tiga solusinya menurut saya:

Pertama, jangan terlalu banyak memberikan tugas. Memberikan tugas memang salah satu metode untuk membelajarkan siswa, tetapi jangan juga berlebihan. Sesuaikanlah dengan kemampuan siswanya. Beri jeda antar tugas satu dengan tugas yang lain agar siswa tidak kewalahan.

Kedua, pahamkan dahulu sebelum memberikan tugas. Jika siswa sudah paham materi yang diajarkan tentu mereka bakal mudah mengerjakan tugas. Boleh juga dengan menjelaskan inti atau dasar dari materi kemudian tugasnya merupakan pengembangan dari materi yang diajarkan sehingga siswa dilatih untuk berpikir luas dan kritis.

Ketiga, perkuat stimulus. Ini adalah tugas guru yang penting. Memperkuat stimulus mampu membuat siswa lebih aktif dalam mengerjakan tugas. Siswa bakal termotivasi dengan hadiah dan takut akan hukuman sehingga pada akhirnya akan mengerjakan tugas sekolah. Sekian.

Posting Komentar

0 Komentar