Teori interaksionisme simbolis merupakan teori yang termasuk dalam paradigma definisi sosial. Sebagaimana teori-teori lain dalam lingkup paradigma definisi sosial, teori interaksionisme simbolis memusatkan perhatian dan fokus kajian pada individu. Itu artinya invidividu memainkan peran penting dalam teori tersebut.
![]() |
| Ilustrasi (gambar dari pixabay.com) |
Untuk dapat memahami teori interaksionisme simbolis kita harus memahami asumsi-asumsi dasarnya. Sebab asumsi-asumsi dasar itulah yang merupakan pokok atau inti sehingga amat penting untuk memahaminya. Beberapa asumsi dasar dari teori interaksionisme simbolis (hal 392-293) yaitu:
Pertama, tidak seperti binatang yang lebih rendah, manusia ditopang oleh kemampuan berpikir. Manusia dikaruniai kemampuan dalam berpikir sedangkan binatang tidak. Dengan kemampuan berpikir, manusia dapat melakukan interaksi-interkasi sosial dengan sesama dalam masyarakat.
Kemampuan berpikir yang dimiliki manusia amat memengaruhi tindakan yang dilakukan. Berpikir membuat seseorang mempertimbangkan dampak yang akan ditimbulkan dari tindakannya serta respon yang akan diberikan orang lain. Dengan begitu kemampuan berpikir akan mampu mengarahkan manusia dalam melakukan sebuah tindakan.
Contohnya: Saya ingin membeli coto, namun saya berpikir bahwa di saat pandemi sekarang ini berbahaya jajan di luar karena rentan penyebaran virus covid 19. Tiada yang tahu apakah penjual cotonya bebas dari covid 19 atau mungkin telah terpapar. Jadi meski saya sebenarnya sangat lapar dan ingin makan coto namun pada akhirnya saya memilih untuk makan masakan ibu di rumah. Tindakan saya itu dipengaruhi oleh kemampuan berpikir.
Kedua, kemampuan berpikir dibentuk oleh interaksi sosial. Ternyata kemampuan berpikir tidak serta merta terbentuk begitu saja melainkan dibentuk oleh interaksi sosial yang terjadi. Interaksi sosial yang dimakud dalam teori interaksionisme simbolis sejatinya terbagi menjadi dua yaitu interaksi pada umumnya dan interaksi sosial spesifik yang disebut sosialisasi.
Pada umumnya sosialisasi dipandang sebagai proses belajar agar bisa diterima dalam pergaulan masyarakat. Namun dalam interaksionisme simbolis, sosialisasi bukan hanya sebatas itu saja, sosialisasi adalah proses yang dinamis artinya berkembang. Sosialisasi bukan hanya sebagai proses belajar melainkan juga sebagai proses untuk mengembangkan kemampuan berpikir.
Sosialisasi dan interaksi yang terjadi pada umumnya akan membentuk kemampuan berpikir kita. Ketika kita bersosialisasi dan berinteraksi, kemampuan berpikir kita ikut berkembang dan bahkan akan memengaruhinya. Sosialisasi di masa kecil akan menjadi dasar berpikir kita dan akan berkembang seiring waktu serta seiring kita memasuki lingkungan sosialisasi tahap berikutnya.
Contoh: Ketika kita masih kecil, kita sering diberitahu tentang pemali atau orang Makassar menyebutnya kasipalli. Biasanya kita menuruti saja perkataan orang tua. Namun ketika kita sudah memasuki lingkungan sekolah apalagi perkuliahan maka kemampuan berpikir kita berkembang. Mungkin kita tak lagi percaya semisal duduk di depan pintu itu pemali karena kita berpikir logis bahwa tak mungkin hanya duduk di depan pintu saja membuat rezeki tidak datang, pemikiran logis tersebut terbentuk dari interaksi sosial yang terjadi di sekolah atau perguruan tinggi.
Ketiga, dalam interaksi sosial orang mempelajari makna dan simbol yang memungkinkan mereka menggunakan kemampuan berpikir tersebut. Dalam sosialisasi dan interaksi pada umumnya individu mempelajari simbol-simbol dan maknanya sehingga membuat individu menggunakan pikiran. Ketika seorang individu merespon sebuah simbol dalam interaksi maka akan terjadi proses berpikir.
Simbol merupakan hal yang penting dalam interaksi yang terjadi. Seseorang dapat mengungkapkan sesuatu dengan sebuah simbol. Simbol menggambarkan dan memberikan sebuah penafsiran tersendiri. Ada beberapa bentuk simbol seperti kata-kata, benda fisik hingga tindakan.
Simbol yang berbentuk kata-kata dapat dengan mudahnya kita pelajari karena setiap individu senantiasa berkomunikasi dengan sesamanya. Komunikasi tersebut menggunakan kata-kata dan bahasa dalam hal ini menjadi sebuah sistem simbol.
Contohnya: Kata ayam yang diucapkan merupakan simbol yang memiliki makna yaitu binatang yang berkaki dua, berbulu, dan mengeluarkan suara kotek atau berkokok. Begitu pula dengan kata kucing yang memiliki makna sebagai binatang yang berkaki empat, berkumis, dan mengeluarkan suara meong.
Simbol yang berbentuk benda fisik biasanya sering disebut sebagai artefak. Simbol ini berbentuk fisik dan dapat dilihat secara langsung. Contohnya: Alquran bermakna kitab suci Islam dan hal yang berkaitan dengan keislaman. Baju bodo atau songkok guru yang berkaitan dengan orang-orang Makassar atau orang-orang Sulawesi Selatan pada umumnya.
Simbol yang berbentuk tindakan juga bisa dilihat secara langsung. Contohnya berjabat tangan yang bisa bermakna akan sebuah kesepakatan dari dua belah pihak. Berjabat tangan juga bisa bermakna sebagai sebuah perkenalan antara dua orang yang baru saling kenal.
Keempat, Makna dan simbol memungkinkan orang melakukan tindakan dan interaksi khas manusia. Makna dan simbol memengaruhi tindakan yang dilakukan oleh manusia. Manusia berpikir dengan melibatkan makna dan simbol untuk melakukan sebuah tindakan. Inilah yang menurut Mead disebut sebagai perilaku tertutup (Hal. 396).
Ketika berinteraksi dengan sesama, invidividu memberikan simbol-simbol dan orang lain akan merespon simbol-simbol tersebut. Lebih dari itu, dalam perilaku tertutup individu akan cenderung mempertimbangkan dan memikirkan dampak dari tindakannya terhadap individu lain. Begitu pula dengan individu yang lain akan mempertimbangkan dan memikirkan respon yang bakal diberikan. Singkat kata terjadi pengaruh-memengaruhi antar invidu sehingga tindakan atau interaksi yang tercipta khas manusia.
Kelima, orang mampu memodifikasi atau mengubah makna dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan tafsir mereka terhadap situasi tersebut. Individu adalah makluk yang otonomi artinya bebas. Individu tidak menerima begitu saja makna dan simbol, melainkan individu bisa memodifikasi dan menciptakan makna dan simbol baru berdasarkan dari penafsiran mereka tersendiri.
Sebagai contoh: Ada seseorang mengendarai mobil yang mewah, orang lain yang melihatnya itu bisa menafsirkan simbol tersebut berdasarkan penafsiran mereka. Kebanyakan mobil mewah ditafsirkan sebagai sebuah kemewahan namun seseorang bisa saja menafsirkannya sebagai sebuah kecerdasan. Sebab kembali lagi bahwa individu itu bersifat otonomi yang dapat mengubah dan menafsirkan sebuah simbol berdasarkan tafsir sendiri serta situasi yang ada.
Keenam, jalinan pola tindakan dengan interaksi ini kemudian menciptakan kelompok dan masyarakat. Individu senantiasa saling berinteraksi dengan individu lain, mereka saling pengaruh-memengaruhi. Nah, interaksi yang terjadi akan terus mengalami perkembangan terus-menerus sampai pada akhirnya terciptalah kelompok atau masyarakat.
Contoh: Saya berkenalan dan berinteraksi dengan orang-orang yang notabebenya baru saya kenal. Kami pun terus berinteraksi sehingga terciptalah sebuah relasi pertemanan. Nah, selanjutnya akan terbentuk kelompok atau geng. Jadi, lewat jalinan pola tindakanlah yang kemudian menciptakan kelompok dan dalam cakupan luas disebut masyarakat.
Referensi:
Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. (Terjemahan Nurhadi). 2010. Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

0 Komentar
Silakan berkomentar dengan bijak dan santun. Penulis akan segera membalasnya. Terima kasih