Liku-Liku Kehidupan Mahasiswa

Bagi anak SMA yang sebentar lagi lulus pasti kebanyakan berharap bisa lanjut kuliah. Kuliah bagi anak SMA tidak melulu hanya karena ingin suatu saat nanti memiliki pekerjaan yang bagus. Banyak di antara mereka kuliah karena ingin menyandang status sebagai mahasiswa.

Dalam kacamata mereka menjadi mahasiswa itu keren, apalagi kalau sudah bisa pakai almamater kebanggaan kampus terus swafoto dan ending-nya unggah di medsos, wah kebanggaan yang hakiki. Meskipun memang tak dapat dipungkiri bahwa tak sedikit yang tulus berkuliah semata-mata karena ingin menimba ilmu dengan harapan bisa mencapai keberhasilan. Namun menikmati status sebagai mahasiswa yang dianggap keren nan gaul juga tidak masalah, iya 'kan? Iya dong.

Ilustrasi (gambar dari mahasiswaundip.com)

Ya namanya saja anak SMA, mereka boleh berkhayal sesuka hati. Mereka mungkin mengkhayalkan perkuliahan yang serba bebas, bebas pakai pakaian apa saja, bebas dari guru-guru yang suka mengomel, bebas dari amukan guru BK, bebas dari rutinitas upacara, bahkan bebas dari mata pelajaran matematika (cie, nak IPS), dan mungkin mereka membayangkan kuliah itu seakan bebas dari penjara sekolah yang mengungkung pikiran dan perasaan, amboi.

Khayalan itu bakal bertahan sampai mereka menyandang status sebagai mahasiswa baru atau maba. Ketika perkuliahan mulai berjalan, angan mereka mulai terkoyak, ekspektasi tak sesuai dengan kenyataan. Dunia kampus tak seindah dunia fantasi anak SMA kebanyakan.

Ketika kenyataan itu tersingkap di pelupuk mata mahasiswa baru, saat itu juga lagu legendaris sinetron indosiar terdengar sayup-sayup, "kumenangis membayangkan betapa kejamnya.." (dan seterusnya). Ya begitulah dinamika perkuliahan, ketika pijakan tak kuat maka kita bakal terseret arus bahkan sampai tersesat, syerem ya, tapi tidak usah takut, hadapi saja apa pun konsekuensinya, harus berani dong 'kan sudah jadi mahasiswa.

***

Dalam buku yang berjudul Dinamika Kehidupan Mahasiswa terkuak liku-liku kehidupan para mahasiswa. Meski isi buku ini mengacu pada mahasiswa Yogyakarta namun tetap mewakili keseluruhan mahasiswa. Dalam buku yang ditulis oleh Wipti Lazuardi ini dijelaskan berbagai dinamika kehidupan mahasiswa yang menarik untuk dibahas. Bagi anak SMA yang baru lulus, bagi yang berharap menyandang status sebagai mahasiswa, atau bagi para mahasiswa galau tugas, galau skripsi bahkan galau karena putus cinta, simak dengan baik penjelasan ini ya. Berikut beberapa dinamika kehidupan mahasiswa dari buku tersebut yang menarik.

Tangkapan layar sampul buku (via ipusnas)

Pertama, cuaca yang tidak bersahabat (berubah-ubah). Sebagai mahasiswa kita sering dihadapkan pada kondisi klasik ini, iya 'kan? Saat musim pancaroba (pergantian) cuaca memang sulit diprediksi. Tadi pagi cerah, siangnya terik eh kok sorenya hujan sih. Serasa hujan dan panas silih berganti seperti perasaan cinta dan bencimu kepadanya, cie.

Kalau lagi apes-apesnya kita bisa basah kuyup di tengah jalan saat menuju atau pulang dari kampus. Padahal batin kita mengatakan cuaca hari ini cerah berawan, pas di tengah jalan tiba-tiba hujan deras mengguyur. Mau kebut otomatis basah, berteduh sebentar takut telat, bagai buah simalakama jadinya. Makanya peribahasa mengatakan "sedia payung sebelum hujan." Sebelum berangkat ke kampus sediakan dulu mantel, catat tuh.

Tetapi memang sih cuaca sulit ditebak, kita sudah pakai mantel karena hujan lebat eh tahu-tahunya sampai di depan kampus langit terang benderang. Lihat kanan kiri orang-orang tiada yang pakai mantel, tiba-tiba dosen lewat, barangkali dalam hatinya membatin: ini mahasiswa dari mana sih, pakai mantel segala. 😂

Kedua, baterai gawai habis atau lowbat. Dulu mahasiswa jadul tak bisa hidup tanpa buku, buku adalah segalanya, kerja tugas harus pakai buku sampai-sampai rajin sekali ke perpustakaan. Sekarang, saya berani jamin tiada mahasiswa yang bisa hidup (maksudnya berkuliah) tanpa gawai, iya 'kan? Bukannya karena kita sok gaul, sok pintar teknologi, atau apa, tetapi karena memang sudah zamannya. Ingat perkataan "lain dulu lain sekarang."

Apa-apa harus dikerjakan secara daring dan digital, apalagi sekarang sedang pandemi covid 19 (semoga pandemi ini segera berakhir ya, aamiin). Akibatnya mahasiswa tidak bisa terlepas dari benda persegi panjang dan berlayar ini. Masalahnya gawai kita tidak bisa dipakai penuh seharian, gawai punya kapasitas penyimpanan daya baterai. Sementara tugas menyerang bertubi-tubi, apalagi lagi pandemi, durasi kuliah per matkul yang biasanya hanya 1-2 jam bisa sampai 3 jam bahkan lebih, aduh. Ketika gawai lowbat mahasiswa pun tamat.

Jalan satu-satunya adalah dengan mengecas. Maka terpujilah bagi teman yang sudi meminjamkan powerbank-nya, saya jamin pasti bakal dipuji setinggi langit. Namun tak sedikit yang sial, tiada teman yang bawa atau barangkali tidak sudi meminjamkan, mungkin teman itu berkata dalam hati: rasakan pembalasan dendamku, hahaha, astagfirullah jangan suuzan (prasangka buruk) ya sama teman sendiri.

Alhasil kita mesti cari colokan. Namun namanya mahasiswa, mereka kompaknya tingkat tinggi. Satu lowbat, yang lain ikutan lowbat. Akhirnya colokan bagaikan sepotong donat yang diperebutkan ayam-ayam. Atau pengibaratannya seperti hatimu yang diperebutkan banyak pria/wanita. Hehehe.

Ketiga, dosen PHP. Tugas dah beres, sudah mandi dan wangi, pakai baju andalan, sisir rambut sampai 20 menit, cek kendaraan, buku pulpen dan atribut lainnya lengkap, gawai? Tenang, itu sih nomor wahid, saatnya berangkat. Di jalan macet, badan jadi keringat dingin, dalam hati berkata: telat nggak ya? Akhirnya sampai juga, lama menunggu dosennya kok tidak datang-datang, tidak ada kabarnya lagi bak ditelan bumi. 

Pernah mengalaminya? Hahaha. Sering juga kita sudah atur waktu buat bertemu sama si dosen semisal untuk konsultasi tugas, minta tanda tangan, atau bahkan konsultasi skripsi. Lama menunggu, kok tidak muncul-muncul, hahaha, dasar pemberi harapan palsu, sakitnya tuh di sini (tiba-tiba nyanyi lagunya Cita Citata).

Keempat, etos kerja dan ketekunan. Siapa bilang jadi mahasiswa itu bakalan enak dan hidupnya berleha-leha? Tidak bakalan, kecuali jika ingin menjadi mahasiswa abadi alias lama lulus. Menjadi mahasiswa berarti kita akan menjadi sosok yang punya etos kerja yang tinggi, tekun, dan yang paling penting adalah kreatif. Bayangkan kalau tugas menggunung namun mahasiswa mengikuti ego dan kemalasannya, pasti tidak bakalan kelar. Oleh karena itu, mahasiswa adalah sosok pejuang, penuh ketekunan, dan kreatif. Mahasiswa dirancang sebagai agent of change atau agen perubahan, makanya mesti super dong. Cie yang mahasiswa.

Kelima, uang bulanan yang menipis. Selain kesedihan karena tidak bisa bertemu orang tua, salah satu kesedihan yang biasa dialami mahasiswa indekos adalah uang bulanan menipis. Tapi kalau menipisnya di tanggal tua sih tidak masalah, kalau di minggu pertama itu yang baru bahaya. Soalnya zaman sekarang uang sangat bernilai, apa-apa serba uang. Oleh karena itu, mahasiswa indekos wajib hidup hemat, kecuali jika mahasiswanya adalah anak sultan atau anak karaeng yang tajir. Hidup hemat berlaku bagi keseluruhan mahasiswa ya.

Selain lima poin itu yang menurut saya menarik, ada lagi tambahan yang sayangnya tidak dicantumkan pada buku itu. Yaitu organisasi, ini yang keenam.

Mahasiswa mana sih yang tidak kenal organisasi? Percayalah, hiruk pikuk kampus kebanyakan karena organisasi. Organisasi bak napas dan tetesan darah mahasiswa, apalagi bagi mereka yang masih maba yang haus akan pencarian jati diri. Organisasi itu bagaikan rumah kedua bagi mahasiswa, tempat untuk mengasah keterampilan, mencari pengalaman, menimba ilmu, dan menjalin relasi.

Namun sayangnya banyak mahasiswa yang terperangkap pada pilihan: aktif di organisasi atau aktif di kelas? Banyak mahasiswa ketika antusias dalam organisasi justru prestasinya di kelas anjlok, begitu pula sebaliknya. Padahal idealnya mesti seimbang akademik dan non akademik. Mahasiswa yang hebat menurut saya adalah mahasiswa yang berjaya di organisasi serta berprestasi di kelas. Itu baru mantul, mantap betul.

Begitulah liku-liku kehidupan mahasiswa. Ada suka dan dukanya. Kehidupan mahasiswa itu memang penuh tantangan dan rintangan. Mereka dibentuk menjadi agen perubahan dan menjadi "manusia yang sejati" yaitu manusia yang bermanfaat bagi bangsa, negara, bahkan agama, makanya hidup mereka berliku-liku. Berbicara tentang "liku-liku" yuk kita bernyanyi!

Hidup penuh liku-liku
Ada suka ada duka
Semua insan pasti
Pernah merasakannya

Jalan hidup rupa-rupa
Bahagia dan kecewa
Baik buruknya sudah pasti
Ada hikmahnya

Susah senang datangnya silih berganti
Bagai roda-roda yang trus berputar
Hadapilah resapilah hidup ini
Jangan terlena jangan putus asa

Posting Komentar

4 Komentar

Silakan berkomentar dengan bijak dan santun. Penulis akan segera membalasnya. Terima kasih