Di era ketika manusia saling berlomba menciptakan teknologi dan peradaban tinggi. Era yang ditandai dengan kemunculan berbagai produk teknologi bermesin, bangunan-bangunan pencakar langit yang menjulang, bahkan hingga robot-robot dengan kecerdasan buatan. Era ini kita bangga, hebat, merasa super atas segala pencapaian yang diraih. Juga sekaligus berpilu atas kerusakan alam yang terjadi.
Rusaknya alam berarti rusaknya hutan, lautan, tempat hewan-hewan mengantungkan hidupnya. Mereka hidup dari setiap tetesan dan napas kasih alam yang mengasihi sepanjang masa. Ketika alam dirusak, hutan dibumihanguskan, lautan dicemari maka hewan-hewan itu seakan kehilangan kasih sayang dan tempat mereka bernaung.
Di antara hewan-hewan itu ada yang bisa ditemukan di berbagai tempat dan ada juga yang tidak. Yang tidak ditemukan di berbagai tempat dan menjadi khas sebuah wilayah disebut sebagai hewan endemik. Bayangkan jika hewan endemik itu dirusak habitatnya dan diburu, maka mereka betul-betul akan punah di muka bumi. Anak cucu kita tak bisa lagi melihat hewan-hewan endemik itu di masa depan.
| Burung maleo (gambar Idham Ali dari genpi.co) |
Ancaman kepunahan hewan endemik akan terus terjadi khususnya di Indonesia. Sebagai negara yang dijuluki sebagai zamrut khatulistiwa, kepunahan hewan endemik Indonesia menjadi sebuah tamparan keras. Bukti ketidakpedulian kita untuk menjaga dan melestarikan alam agar ramah pada hewan-hewan. Padahal mereka juga ingin hidup dan terus menjadi bagian dari alam semesta ini.
***
Dalam buku yang berjudul Beberapa Kisah Hewan Endemik di Indonesia yang diterbitkan Tempo Publishing dikisahkan berbagai hewan-hewan endemik yang terancam. Mereka terancam bukan karena mereka tak mampu beradaptasi tetapi karena mereka tersingkir dari habitat mereka.
![]() |
| Tangkapan layar sampul buku (via ipusnas) |
Di Sulawesi sebagai wilayah yang termasuk dalam wallacea berbagai hewan endemik hidup di sana. Saya tertarik dengan hewan-hewan endemik yang menempati "pulau besi" itu. Salah satu hewan endemik di pulau Sulawesi adalah burung maleo. Burung yang tak bisa terbang ini awalnya dikisahkan terancam populasinya. Hal itu disebabkan karena maraknya pengambilan telur maleo oleh masyarakat setempat untuk dikonsumsi.
Namun perlahan keadaan berubah. Secercah harapan terbit, ditandai dengan banyaknya orang yang mulai peduli dengan populasi burung maleo yang terancam. Dalam buku diterangkan bahwa masyarakat desa di pinggir Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo rupanya membantu menetaskan telur burung maleo.
Wahab Tamati adalah salah satu dari warga sana yang telah melakukan usaha penyelamatan burung maleo. Caranya adalah dengan mencari dan mengumpulkan telur burung maleo. Selanjutnya telur-telur itu akan ditetaskan di rumah penetasan. Mencari telur burung maleo tak semudah yang kita bayangkan, jangan pikir hal ini serupa ketika mengambil telur-telur itik, atau serupa mengambil telur-telur ayam petelur. Tidak semudah itu. Pak Wahab mesti mencari telur-telur itu di hutan, waktu pencarian pun telah ditentukan, pagi-pagi sekali dari pukul 6-10 pagi.
Cara pengambilan telur-telur maleo cukup unik. Pasalnya Pak Wahab harus menggali tanah pasir tempat burung maleo bertelur yang kedalamannya bisa mencapai tinggi pinggang orang dewasa. Wow, saya takjub membaca informasi di buku itu. Saya baru tahu ternyata burung maleo menyimpan telurnya di tanah berpasir.
Yang menjadi pertanyaan, bagaimana caranya anak burung maleo yang baru menetas nanti keluar dari dalam tanah berpasir itu ya? Masyaallah, sungguh kuasa Allah SWT.
Setelah kurang lebih 60 hari telur-telur maleo akan menetas. Setelah menetas dan keluar dari dalam tanah pasir maka piyik-piyik maleo itu akan dilepasliarkan. Harapannya dengan penetasan dan pelepasliaran piyik-piyik maleo akan membuat populasi burung maleo semakin banyak sehingga burung endemik Sulawesi ini bisa terselamatkan dari kepunahan.
Selain burung maleo hewan endemik Sulawesi, saya juga mengetahui kisah penemuan hewan endemik yang unik di pulau Jawa. Hewan itu adalah macan tutul jawa yang dikabarkan dalam buku itu ditemukan di Garut. Yang unik adalah tempat penemuan hewan itu yang berada di ketinggian, padahal di ketinggian itu tidak lazim bagi macan tutul jawa bermukim.
![]() |
| Macan tutul jawa (gambar dari liputan6.com) |
Barangkali karena habitat macan tutul jawa semakin berkurang maka mereka semakin terdesak alhasil mereka pun berpindah ke tempat-tempat tinggi yang jauh dari jangkauan dan hiruk pikuk kehidupan manusia.
***
Ketika alam tak lagi menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi hewan-hewan. Ketika alam tak lagi mampu memberikan napas kasih bagi segenap penghuninya. Saat itulah kita akan menyaksikan kepunahan hewan secara nyata. Hewan endemik itu, yang khas, adalah yang paling terancam. Jika telah tiada di tempat asalnya maka sangat sulit menemukannya di belahan bumi lain.
Saya menghela napas. Semoga kita semakin banyak menjumpai pelita-pelita yang membawa sinar harapan. Semoga semakin banyak yang sadar dan peduli akan kelestarian lingkungan dan satwa di dalamnya. Semoga semakin banyak yang menyadari bahwa selain pemanfaatan, alam juga perlu pelestarian. Jika tidak, sungguh, hewan-hewan endemik itu terancam.


0 Komentar
Silakan berkomentar dengan bijak dan santun. Penulis akan segera membalasnya. Terima kasih