Perawakannya mirip kura-kura, bercangkang dan jalannya cukup lambat di daratan. Bedanya dengan kura-kura, hewan ini hidup di lautan. Sebagaimana nenek moyangnya dahulu, Ia akan datang ke daratan untuk menyimpan telur-telurnya di dalam pasir yang hangat kemudian meninggalkannya menuju lautan. Alam yang akan menjaga dan menetaskan telur-telurnya itu.
Begitu ia kembali ke lautan, di malam yang dingin, jejak-jejak kaki itu mulai mendekat. Menggali dan merampas apa yang ditanam hewan itu, tak tersisa. Bagi masyarakat sana, benda-benda berbentuk bulat itu adalah komoditas yang laku di pasaran. Rasanya memang berbeda dengan telur ayam tetapi penikmatnya banyak. Tak hanya telurnya saja yang diburu orang, hewan itu pun tak luput dari pemburuan. Hewan yang malang itu adalah penyu laut.
![]() |
| Penyu (gambar dari beritasatu.com) |
Penyu menjadi hewan buruan yang menjanjikan secara ekonomi. Telur dan dagingnya digemari banyak orang. Kulit atau cangkangnya banyak dibuat berbagai kerajinan tangan seperti anting-anting, sisir, sendok nasi, dan masih banyak lagi. Bahkan ada yang memburu penyu untuk diambil minyaknya, orang-orang sana menyebutnya minyak bulus yang konon katanya bisa menghilangkan kerutan dan berbagai khasiat lainnya. Kita bisa menebak akhir dari kisah penyu itu, mereka terancam punah.
Tak banyak yang tahu pentingnya keberadaan penyu dalam keseimbangan lautan. Mereka adalah salah satu komponen dalam rantai makanan, ketika mereka punah, malapetaka akan datang. Menurut Manajer Konservasi Penyu Laut World Wild Fund (WWF) Indonesia I.B. Windia Adnyana, berkurangnya populasi penyu adalah awal datangnya bencana besar. Penyu, khususnya penyu hijau sejatinya punya kebiasaan menyimpan makanan di temboloknya. Ketika penyu mulai mengunyah makanan itu, remah-remahnya yang jatuh akan menjadi makanan dari ikan-ikan kecil. Terumbung karang pun menjadi subur akibat remah-remah makanan itu.
Lebih dari itu, penyu adalah pemakan alga, itu berarti penyu bisa mengendalikan populasi alga di lautan. Coba tebak apa yang terjadi jika populasi penyu berkurang? Pertumbuhan alga di lautan bakal meledak. Jika alga itu termasuk jenis yang beracun maka racunnya akan mematikan ikan-ikan kecil. Jika sudah demikian, maka ekosistem menjadi terganggu.
***
Saya mengetahui kisah tentang penyu itu lewat sebuah buku yang berjudul Penyu Laut dan Kisah Perlindungan Spesies Andalan Indonesia. Saya tertegun selepas membaca beberapa bagian dari buku tersebut. Betapa keserakahan manusia telah membuat hewan purba ini nyaris punah. Dalam buku itu, saya menemukan kisah-kisah inspiratif penyelematan penyu dari kepunahan. Mari kita simak kisah inspiratif itu!
![]() |
| Sampul buku (ipusnas) |
Kisah inspiratif penyelamatan penyu datang dari Sumatra Barat. Maraknya pemburuan telur-telur penyu saat itu bahkan sampai pada kondisi yang memprihatinkan membuat Harfiandri Damanhuri, seorang peneliti sekaligus dosen dari Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta di Padang tergerak hatinya untuk melakukan konservasi penyu. Konservasi itu dilakukan dengan melepaskan sebanyak-banyaknya anak penyu atau tukik ke lautan.
Tunggu dulu, jika pemburuan telur-telur penyu marak terjadi, bagaimana caranya Harfiandri menetaskan telur-telur itu hingga berhasil dilepaskan ke lautan?
Caranya adalah dengan metode penetasan tanpa pasir.
Cara itu ditempuh selain karena tidak amannya telur-telur penyu jika ditetaskan secara alami juga mengingat kondisi pasir tempat bertelur penyu yang sudah tidak layak lagi. Banyak yang telah tercemar akibatnya tingkat kesuksesan menetas telur penyu menurun. Jika mengandalkan penetasan alami maka cita-cita untuk melepaskan tukik sebanyak mungkin tidak bakal terwujud.
Penemuan gagasan penetasan tanpa pasir itu terbilang unik pasalnya Harfiandri menemukan ide tersebut bermula dari kisah mahasiswanya. Ha? Kok bisa?
Dikisahkan waktu itu mahasiswanya sedang melakukan penelitian penyu. Sang mahasiswa berniat membawa pulang sekantong telur penyu, namun ia malah meninggalkannya di bawah pohon, barangkali mahasiswa itu lupa mengambilnya. Beberapa bulan kemudian ketika kembali ke tempat penelitian, ditemukanlah tukik-tukik di dalam kantong dalam keadaan mati. Nah, dari kisah itulah Harfiadri berpikir untuk mengembangkan metode penetasan tanpa pasir.
Penetasan tanpa pasir itu dilakukan di laboratorium. Saat dalam tahap pemeraman, suhu harus diatur sedemikan rupa. Idealnya suhu harus berkisar 28-32 derajat celsius. Hal itu agar rasio jenis kelamin tukik-tukik yang dihasilkan seimbang antara jantan dengan betina. Setelah menetas barulah tukik-tukik itu dilepaskan ke lautan.
![]() |
| Tukik (gambar dari mediaindonesia.com) |
Selain kisah penetasan tanpa pasir itu, saya juga menemukan kisah yang tak kalah inspiratifnya. Kisah itu tentang sebuah komunitas yang telah berjasa dalam menyelamatkan populasi penyu juga lingkungan. Komunitas itu bernama Tabuik Diving Club.
Awalnya komunitas itu adalah komunitas penyuka olahraga selam dan pecinta kawasan bahari. Aksa Prawira ketua komunitas itu menuturkan bahwa waktu itu mereka selalu latihan menyelam. Saat pulang, anggota komunitas membawa bibit-bibit tembakau yang mereka temukan kemudian menanamnya. Lambat laun kawasan yang mereka tanami berubah menjadi hutan bakau.
Tak hanya menanam bakau, komunitas itu juga melakukan penanaman terumbu karang. Berkat dari jerih payah mereka dalam menyelamatkan lingkungan maka pada tanggal 17 agustus 2017 silam mereka dianugerahi penghargaan Kalpataru tingkat provinsi. Tak hanya sampai di situ saja, komunitas itu juga mengembangkan kawasan itu menjadi ekowisata. Dengan begitu, masyarakat yang dulunya sering memburu penyu serta telurnya bisa beralih ke usaha ekowisata misalnya dengan menyewakan perahu ke pengunjung. Alhasil populasi penyu terselamatkan.
***
Selepas membaca kisah-kisah penyelamatan penyu di dalam buku itu saya merenung sesaat. Betapa ketidakpedulian manusia terhadap populasi penyu dengan memburunya terus-menerus telah menyebabkan hewan purba ini nyaris saja punah.
Penyu-penyu itu juga ingin hidup, mereka juga berhak atas lautan dan pantai yang Tuhan ciptakan. Mereka berhak atas pantai yang bersih, dan pasir yang nyaman untuk menyimpan telur.
Ketika penyu-penyu itu terancam keberadaannya, tangan-tangan mulia merangkul mereka. Mengeluarkan mereka dari lembah keterpurukan dan menanamkan bibit-bibit harapan. Tangan-tangan mulia itu adalah mereka sang penyelamat penyu, mereka yang dengan ikhlas menyelamatkan penyu dari kepunahan dengan berbagai aksi nyata lagi menginspirasi.
Di tanah Makassar ini saya menghela napas panjang. Mungkin saja Mahatma Ghandi benar, "Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun tidak cukup untuk memenuhi keinginan segelintir kecil manusia yang serakah."
Kepada penyu-penyu yang terancam punah itu saya titipkan salam cinta, semoga penyu-penyu itu tetap lestari hingga akhir nanti. Kepada mereka yang berada di garda depan dalam menyelamatkan penyu dan lingkungan, saya titipkan salam perjuangan, semoga Tuhan membalas kebaikan-kebaikan kalian.
... Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Q.S. Al-Qasas: 77).



0 Komentar
Silakan berkomentar dengan bijak dan santun. Penulis akan segera membalasnya. Terima kasih