Belajar Teori Sosiologi dari Yusran Darmawan

Belakangan ini saya rutin membaca tulisan dari sebuah blog. Bukan sembarang blog, penulis blognya adalah Yusran Darmawan yang merupakan seorang penulis buku berjudul Kopi Sumatera di Amerika dan juga merupakan lulusan universitas luar negeri.

Tangkapan layar blog Yusran Darmawan

Dia bercerita banyak hal, tulisannya mengalir begitu saja, renyah, dan tentunya unik. Saya menyukai tulisannya karena sederhana namun sarat makna dan subtansinya juga jelas. Nama blognya sama dengan namanya, sedangkan alamat blognya yaitu timur-angin.com

Sebagai seorang yang menyenangi ilmu sosial, ia tak jarang mengaitkan begitu banyak isi buku dengan fenomena-fenomena sosial yang terjadi. Bahkan di berbagai tulisannya terkadang menyuguhkan berbagai teori sosiologi yang mudah saya pahami misalnya berkaitan dengan kapitalisme maupun komunisme yang diracik dengan apik. 

Di tengah pandemi sekarang ini dia banyak membahas tentang pandemi covid 19, ia begitu lihai mengaitkan kondisi pandemi dengan ajaran dan ideologi komunisme. Dalam sebuah tulisannya, ia menjelaskan bahwa berbagai negara berideologi komunis sukses menekan penyebaran virus corona, contohnya negara Tiongkok dan Vietnam. 

Sebaliknya, negara-negara kapitalisme yang dipandang sebagai negara maju justru kewalahan dalam mengatasi pandemi tersebut. Bahkan negara sekelas Amerika Serikat saja yang merupakan negara adidaya tak mampu menangani pandemi corona yang telah menelan begitu banyak korban. 

Itu semua menunjukkan gejala kebangkitan komunisme yang mungkin saja akan banyak diserukan oleh masyarakat dunia. Masyarakat dunia butuh kehadiran pemerintah yang mampu mengatur, melindungi, bahkan memaksa warganya agar patuh, tunduk, dan tertib. Itulah gejala komunisme, sebuah pengawasan atau kontrol yang kuat dari negara. 

Kapitalisme telah membuat masyarakat hidup dengan kebebasan, mereka menjunjung tinggi hak. Alhasil begitu banyak pelanggaran yang dilakukan ketika dilakukan lockdown karena masyarakatnya yang terlalu bebas dan susah dikontrol oleh negara. Mungkin saja hal serupa juga terjadi di Indonesia saat diadakan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB. 

Yusran Darmawan memberikan opini yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh pembaca. Gaya menulisnya yang mengalir layaknya orang yang bercerita membuat kita paham apa substansi (inti) yang disampaikannya. 

Saya pikir, saya mesti banyak belajar dari sosok Yusran Darmawan. Penulis asal Buton, Sulawesi Tenggara ini telah menyuguhkan tulisan-tulisan yang penuh cinta dan keikhlasan. Belajar teori sosiologi darinya sangat saya dambakan. Andai dia teoretikus mungkin dia akan menjadi teoretikus yang sederhana, yang tak terbelit dengan istilah akademis yang canggih. Baginya, seorang yang terdidik adalah mereka yang mampu menyederhanakan teori yang rumit, bukannya tambah merumitkannya dengan berbagai istilah yang mungkin saja penulisnya pun tak memahaminya. Sekian. 

Posting Komentar

0 Komentar