Hujan yang Semakin Ganas dan Meresahkan

Pagi itu, seperti biasanya, hujan turun dengan begitu derasnya, menghunjam bumi. Saya yang tak memakai jas hujan sebelumnya seketika langsung berteduh di emperan warung, entah warung siapa? Saya tak peduli, hehehe. Selain saya, ada pula beberapa pengendara yang ikut berteduh, menatap hujan yang turun semakin lebat. Tampaknya hujan akan terus mengguyur, tak kunjung reda. 

Setelah memakai jas hujan yang terdapat di bagasi motor, saya pun meninggalkan emperan warung, meninggalkan para pengendara motor lainnya yang terjebak hujan, mereka tampak kedinginan. Motor saya melaju di tengah derasnya air hujan. Beberapa kali saya mengumpat ketika harus dihadapkan pada lubang-lubang jalan yang tertutup air dan beberapa kali saya pun mesti berhenti di pinggir jalan untuk memastikan apakah ban motor saya baik-baik saja. Jalan berlubang memang menjadi momok menakutkan bagi pengendara ketika hujan. Serius!

Ilustrasi (dokumen pribadi)

Tampak selokan-selokan di pinggir jalan dipenuhi air, meluap, menyebabkan genangan air yang cukup dalam. Selain jalan, air hujan juga tampak menggenangi beberapa rumah, pemakaman, bahkan masjid. Memang hujan adalah rahmat, namun jika ceroboh, hujan pun dapat menjadi bencana yang meresahkan. 

Di mata saya, genangan-genangan air yang mungkin suatu saat akan berubah menjadi banjir ini disebabkan oleh buruknya drainase yang ada. Saluran air yang tersumbat oleh sampah plastik umumnya menjadi penyebab air tak mengalir, akibatnya ketika hujan, air yang berada di selokan meluap ke badan jalan.

Ilustrasi 2 (dokumen pribadi) 

Selain tersumbat, ada pula yang saya lihat tak memiliki saluran air. Akibatnya, ketika hujan, air hujan begitu saja menggenangi jalan, tak ada pelarian sama sekali. Tentu saja hal ini menyusahkan pengendara. Bagi pejalan kaki, mereka mesti berhati-hati, sebab pakaian mereka bisa saja basah akibat kecipratan air. 

Akhirnya saya pun sampai di kampus. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat, itu artinya perjalanan lebih lama dari biasanya. Saya bergegas pergi dari parkiran menuju lantai sembilan, ya, lantai sembilan, tenang saja, saya menaiki lift. Ahhh, hidup di masa sekarang memang serba gampang. 

Hujan belumlah reda, justru semakin mengganas. Dari atas lantai sembilan, saya dan Amalia temanku memandang hujan yang membasahi Kota Makassar. Ada kalanya hujan meresahkan dengan banjir yang membayang-bayangi, namun jangan lupa hujan merupakan anugerah Ilahi, di saat hujanlah biasanya kenangan hebat tercipta layaknya di dalam cerita-cerita novel. Sekian 

Posting Komentar

0 Komentar