Apapun Alasannya, Menyontek Tetaplah Buruk

Salah satu perbuatan buruk yang sering diidentikkan dengan pelajar sedari dulu adalah menyontek, celius deh! Kegiatan mengutip tulisan sebagaimana aslinya ini sering dilakukan oleh pelajar, baik itu jenjang sekolah dasar sampai menengah. Celakanya menyontek sepertinya akan terus berlanjut, tiada habisnya, dan mungkin telah membudaya dalam pendidikan kita, gawat!

Ada banyak alasan seseorang menyontek, namun menurut saya "malas belajar" menjadi faktor utama seseorang bisa nekat melakukan perbuatan tercela tersebut. Siswa yang malas belajar biasanya akan kesusahan dalam mengerjakan tugas, ulangan, maupun ujian, alhasil menyontek menjadi jalan mereka satu-satunya. Jika rekan yang disontekinya enggan memberikan jawaban secara langsung maupun lisan, maka biasanya si penyontek akan turun tangan langsung dengan berusaha mati-matian mendapatkan jawaban, seperti dengan memanjangkan leher (ehh emangnya jerapah), bahkan ada yang sampai-sampai menyiapkan kertas sontekan jauh-jauh hari, astaga!

Mengapa saya tahu? Hayo, pasti banyak yang tidak bertanya, ehh salah, maksudnya banyak yang bertanya, bukan? Hehehe, ngaku aja! Yup, saya juga punya buaaaaanyak pengalaman terkait menyontek dan tidak sedikit malah saya yang berperan menjadi penyontek orang yang disonteki, nggak boong. Meski begitu, jujur saya juga pernah menyontek sih dan itu menjadi catatan gelap hidup saya, nyesel banget. -_-

Pengalaman terkait durian, ehh salah, maksudnya menyontek banyak saya temui ketika masih duduk di bangku sekolah menengah, sekolah dasar? Nggak inget lagi, wkwkwk. Sekarang ketika saya telah berkuliah, kalian atau siapa saja yang prihatin dengan masalah menyontek ini mungkin akan jengkel, kecewa atau apalah istilahnya, sebab di perkuliahan pun ternyata menyontek tetap hidup, waduh gawat nian!

Nggak percaya? Hmmm, kalian (baca: pembaca) boleh saja percaya atau juga tidak untuk hal ini, namun yakinlah saya telah punya pengalaman yang demikian, serius! Yang bikin saya tidak habis pikir adalah masa untuk yang notabenenya merupakan calon guru alias mahasiswa jurusan pendidikan justru melakukan perbuatan yang tak sepantasnya sih, ‘kan tidak etis, iya ‘kan? Calon guru lo ya, duhhh, malu-maluin aja. Kalau calon gurunya saja seperti itu, astaga, nggak kebayang siswanya nanti bagaimana bentuknya, tetapi semoga saja tidak. Semoga mereka (baca: oknum) tersebut menyesali perbuatannya dan sadar sesadar-sadarnya bahwa mereka adalah calon guru, bukan calon pejabat, uppps apaan sih, becanda. ^_^

Lantas, apa sih bahayanya menyontek? Memang mematikan ya kayak wabah virus corona? Hmmm, sebenarnya menyontek nggak mematikan secara fisik kok, namun besar kemungkinan bakalan mematikan pikiran, celius deh! Kenapa? Karena orang yang menyontek apalagi sudah kecanduan maka dia nggak bakalan mau belajar or berpikir. Akibatnya otak buntu, ini bahasa kasarnya ya. “Ahhh, ngapain aku belajar, kan ada dia, dia tuh pintar, nyontek ke dia aja” kurang lebih beginilah pemikiran bersumbu pendek, ihhh jangan pernah ditiru ya.

Ilustrasi (gambar dari satuharapan.com)

Itu pertama, kedua adalah jika kita menyontek itu sama saja mengambil hak orang lain, mengambil punyanya orang, itu ‘kan mencuri namanya, iya ‘kan? Iyain aja deh, hehehe. Jika termasuk mencuri maka dapat dianggap kriminal dan ujung-ujungnya adalah jeruji besi alias penjara, ihhh amit-amit deh, ngeri tau. Sekalipun nggak dipenjara, tentu yang namanya pencurian bakal diganjar dosa oleh Allah Swt. Kalau sudah begini, buruan deh taubat.

Tetapi ‘kan dianya mau-mau saja disonteki, gimana tuh? Hmmm, sekalipun si dianya mau-mau saja disonteki, kita tidak boleh mengambil kesempatan tersebut, itu sih cuma alasan pembenaran saja, huuuu. Ibaratkan memancing, orang itu layaknya memancing di tambak ikan, pantasan mudah dapat ikan, wkwkwk.

Ketiga adalah tidak jujur alias bohong or menipu. Hasil menyontek bukanlah jerih payah sendiri, kerjanya orang lain, itu sama saja berbohong dan menipu banyak orang, menipu guru atau dosen sampai orang tua sendiri, ihhh apa nggak takut kualat!

Keempat, jika ketahuan malunya nggak tertahan. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga, sepandai-pandai seseorang menyontek pasti akan ketahuan juga. Ada yang bisa jamin aksi menyontek tidak bakal ketahuan? Nggak ada, yakin saja. Meski hari ini lolos, yakinlah ada masa aksi mencopet, ehh maksudnya menyontek tersebut akan ketahuan, tinggal tunggu tanggal mainnya aja.

Kalau sudah ketahuan, ihhhh malunya itu lo, kayak mau menghilang saja dari dunia ini, serius deh. Bagi kamu yang merasa malu karena ketahuan menyontek, kamu patut bersyukur, lah memangnya kenapa? Kok bersyukur? Sebab masih dianugerai rasa malu ketika ketahuan berbuat hal yang tercela. Lah emangnya ada yang nggak malu? Sudah pasti ada Bro. Bahkan sekelas pejabat pemerintah pun buaaaaaanyak, nggak percaya? Tengok saja di televisi!

Begini ya kawan-kawan, apapun alasannya menyontek tetaplah buruk, tidak etis, barang tentu tidak mencerminkan kepribadiaan yang terdidik. Apa pun kondisinya, bahkan sekalipun kita mesti mengulang or mendapatkan nilai yang jelek, tetap saja menyontek bukanlah solusi, celius nggak boong! Saya teringat petuah guru saya, beliau berkata bahwa meskipun nilai nol, itu lebih baik ketimbang nilai seratus tetapi hasil menyontek, iya ‘kan? Iya dong!

Tidak usah takut mengulang ataupun dimarahi orang tua atau siapa pun itu gara-gara nilai jelek, yang penting hasil kerja sendiri, toh kita sudah berusaha belajar, iya nggak? Saya juga pernah tuh mengulang waktu sekolah, namun senang-senang saja, kenapa? Karena hasil kerja sendiri meski jauh dari harapan, tetapi itulah namanya proses. Tak ada yang dapat mencapai tangga puncak dengan seketika, butuh tahap demi tahap, bukan? Di titik itulah sebenarnya diri kita diuji, tahan banting atau nggak? Bukan dibanting betulan ya, hehehe. Sekian. 

Posting Komentar

0 Komentar