Makalah Perencanaan Pembelajaran

 MAKALAH

PERENCANAAN PEMBELAJARAN


(Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas dari Mata Kuliah Perencanaan Pembelajaran Sosiologi)


Oleh:


Kelompok 2


.......

................

.......................



PRODI PENDIDIKAN SOSIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2021


KATA PENGANTAR


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Puji syukur kepada Allah Swt. karena berkat rahmat dan nikmat-Nyalah sehingga makalah ini bisa selesai dengan tepat waktu. Selawat tak lupa pula kita panjatkan kepada Nabi Muhammad Saw. yang merupakan teladan dan manusia terbaik yang diutus ke muka bumi untuk membawa ajaran agama Islam yang dimuliakan.

Makalah yang berjudul Perencanaan Pembelajaran ini disusun tiada lain untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Perencanaan Pembelajaran Sosiologi. Tentu malakah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi materi maupun penulisan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran agar makalah ini lebih baik lagi. 

Semoga makalah sederhana ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan pembaca sekalian. Sekaligus menjadi referensi dalam penulisan-penulisan makalah berikutnya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

                                                                                                                 Makassar, 14 April 2021

                                                                                                                                         Penyusun


                                                                                                                                       Kelompok 2


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kemajuan suatu negara dan bangsa. Negara yang memiliki kualitas pendidikan yang baik maka akan berpeluang besar untuk menjadi negara maju sebab pendidikan yang berkualitas menandakan sumber daya manusia yang juga berkualitas.

Sumber daya manusia yang berkualitas akan mampu menciptakan berbagai inovasi atau terobosan yang mendorong perubahan. Selain itu, pendidikan yang baik juga akan berdampak positif di ranah ekonomi karena tersedianya pelaku ekonomi yang cakap dan berdaya saing yang dapat mendukung pembangunan, baik sebagai tenaga kerja maupun sebagai pengusaha.

Besarnya dampak yang ditimbulkan dari pendidikan menyebabkan pendidikan begitu penting untuk dikembangkan. Berbagai kebijakan maupun aturan yang hadir dalam dunia pendidikan diharapkan mampu memajukan mutu pendidikan di Indonesia agar dapat bersaing dengan pendidikan di negara-negara lain.

Tentunya tak mudah pendidikan Indonesia mencapai kemajuan sebab ada banyak hal yang harus dibenahi, baik itu terkait permasalahan pendidikan secara kualitatif maupun kuantitatif. Selain itu, pendidikan adalah sesuatu yang kompleks dan pastinya memiliki tantangan serta rintangan seiring berkembangnya zaman.

Dengan begitu pentingnya kemajuan pendidikan, maka perlu berbagai strategi jitu yang dapat mengantarkan pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik. Salah satu strategi tersebut yaitu dengan membuat perencanaan pembelajaran. Hal ini sangatlah penting agar pembelajaran yang menjadi inti pendidikan dapat terarah dan berkemajuan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan perencanaan pembelajaran?

2. Apa urgensi atau pentingnya perencanaan pembelajaran?

3. Apa saja prinsip perencanaan pembelajaran?

4. Apa saja karakteristik perencanaan pembelajaran?

5. Apa saja manfaat perencanaan pembelajaran?

6. Apa saja fungsi perencanaan pembelajaran?

7. Apa saja kriteria penyusunan perencanaan pembelajaran?

C. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui pengertian, urgensi, prinsip, karakteristik, manfaat, fungsi, dan kriteria penyusunan perencanaan pembelajaran.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan pembelajaran terdiri dari dua kata yaitu perencanaan dan pembelajaran. Perencanaan adalah kegiatan merencanakan atau mengonsepkan hal-hal yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Bisa juga diartikan sebagai langkah awal dalam menyiapkan segala hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang.

Sedangkan pembelajaran adalah proses atau usaha yang dilakukan guru untuk membuat siswa belajar. Pembelajaran juga berarti kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam membantu, mendorong, dan memberikan pengalaman belajar untuk siswa dan memfasilitasinya agar siswa mampu belajar secara aktif.

Jadi, apa itu perencanaan pembelajaran? Perencanaan pembelajaran adalah proses merencanakan dan menetapkan segala hal yang akan dilakukan ke depan terkait pembelajaran dengan tujuan agar proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien. Juga berarti usaha mengonsepkan atau merancang langkah-langkah yang akan diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran di kelas agar pembelajaran berjalan sesuai dengan apa yang dicita-citakan.

B. Urgensi atau Pentingnya Perencanaan Pembelajaran

Mengapa perencanaan pembelajaran itu penting? Karena pembelajaran itu tak mudah dilaksanakan, perlu persiapan yang matang untuk mencapai hasil yang maksimal. Perlu perencanaan yang kompleks meliputi perencanaan aktivitas atau kegiatan guru dengan siswa, perencanaan metode atau teknik pembelajaran, perencanaan media, perencanaan sumber belajar, dan lain sebagainya. Kompleksnya hal yang perlu dipersiapkan itulah yang menyebabkan perencanaan pembelajaran menjadi penting.

Menurut Sanjaya (2013:31), ada beberapa hal yang menyebabkan perencanaan pembelajaran menjadi penting, apa saja itu? Berikut penjelasannya.

1. Pembelajaran adalah proses yang bertujuan. Artinya suatu pembelajaran itu terlaksana pasti ada tujuannya, sesederhana apapun pembelajaran itu. Sehingga jika semakin tinggi dan kompleks tujuan yang hendak dicapai oleh suatu pembelajaran, maka perencanaannya juga harus berbanding lurus. Mustahil jika menginginkan pembelajaran yang efektif terapi perencanaannya ala kadarnya saja. Ibaratnya menanam padi, tak mungkin dapat maksimal jika tak ada rencana untuk memberikan pupuk, membasmi hama, hingga perencanaan irigasi.

2. Pembelajaran adalah proses kerja sama. Kerja sama artinya usaha yang dilakukan oleh beberapa orang. Mengapa pembelajaran disebut sebagai proses kerja sama? Sebab sesungguhnya di dalam pembelajaran melibatkan lebih dari satu pihak. Pihak yang terlibat dalam pembelajaran di antaranya yaitu guru dengan siswa. Akan ada proses komunikasi, sugesti, dan juga kontak yang terjadi. Semua itu tentu saja perlu direncanakan dengan baik. Baik perencanaan tentang apa yang seharusnya siswa lakukan, maupun perencanaan tentang bagaimana seorang guru seharusnya bertindak atau berperilaku agar pembelajaran menjadi optimal.

3. Proses pembelajaran adalah proses yang kompleks. Pembelajaran bukan hanya sebatas mentransfer ilmu, tetapi juga mentransfer adab dan budi pekerti. Pembelajaran bukan hanya sebatas 1 + 1 = 2, tetapi juga tentang mengapa harus 2? Bagaimana sejarahnya menjadi 2? Apa dampak dari 1 + 1 = 2? Bahkan apa yang kita pelajari dari penjumlahan tersebut? Itulah mengapa dikatakan bahwa pembelajaran adalah proses yang kompleks karena mencakup berbagai aspek. Kekompleksan pembelajaran itulah yang menyebabkan perlu adanya perencanaan.

4. Proses pembelajaran akan efektif manakala memanfaatkan berbagai sarana dan prasarana yang tersedia, termasuk memanfaatkan berbagai sumber belajar. Keefektifan pembelajaran memang didukung oleh berbagai aspek, salah satunya ialah sarana & prasana yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar. Banyak sekali sumber belajar yang dapat dimanfaatkan oleh guru atau tenaga pengajar semisal buku-buku, atau bahkan perangkat elektronik seperti laptop.

Beragamnya sumber belajar membuat guru perlu untuk memilih dan memilah sumber belajar yang efektif dan cocok untuk para siswanya. Proses memilih dan memilah sumber belajar ini ada dalam perencanaan pembelajaran. Makanya perencanaan pembelajaran itu penting.

C. Prinsip Perencanaan Pembelajaran

Terdapat empat prinsip perencanaan pembelajaran yaitu prinsip perkembangan, prinsip perbedaan individu, prinsip minat dan kebutuhan anak, dan prinsip motivasi (Sagala: 2012:150). Berikut penjelasannya.

1. Prinsip Perkembangan

Para siswa yang menimba ilmu di sekolah sudah pasti memiliki tingkat perkembangan yang berbeda-beda. Tingkat perkembangan itu akan semakin tampak dengan adanya jenjang usia dan tingkatan kelas. Semakin tinggi jenjang kelas maka biasanya semakin tinggi pula perkembangan dan kemampuannya. Misalnya siswa kelas 5 SD, tentunya memiliki kemampuan membaca yang lebih baik daripada siswa kelas 2 SD.

Adanya perkembangan yang berbeda-beda membuat seorang guru haruslah pandai-pandai dalam memilih bahan dan metode pembelajaran. Jangan sampai perkembangan anak pada perencanaan pembelajaran disampingkan ketika memilih bahan dan metode pembelajaran. Hal itu akan membuat pembelajaran tak efektif karena tak sesuai dengan perkembangan peserta didik.

2. Prinsip Perbedaan Individu

Para siswa sebagaimana lazimnya manusia tentunya memiliki karakter, sikap, ciri, maupun pembawaan yang berbeda-beda. Semisal ada yang periang, cerewet, pendiam, kalem, lincah, lamban, kurus, gemuk, tinggi, pendek, dan lain sebagainya.

Perbedaan-perbedaan itu semestinya dipahami betul oleh seorang guru ketika merencanakan pembelajaran. Tujuannya tiada lain agar mengefektifkan pembelajaran dan agar mencegah masalah-masalah yang muncul nantinya.

3. Prinsip Minat dan Kebutuhan Anak

Perencanaan pembelajaran seyogianya disesuaikan dengan minat dan kebutuhan anak. Anak yang menjadi siswa di sekolah mempunyai minat dan kebutuhan yang berbeda-beda. Maka, seorang guru sebisa mungkin memahami dan menyesuaikan pembelajarannya dengan minat juga kebutuhan para siswa.

Semisal siswanya berminat pada sastra seperti puisi, guru yang mengajar mata pelajaran sosiologi bisa menyampaikan materi pelajaran dengan bahasa yang puitis. Atau bisa juga siswanya suka tanaman atau tumbuh-tumbuhan, maka penyampaian materi pelajaran sosiologi sesekali dapat dilakukan di luar kelas seperti di bawah pohon. 

Masih banyak lagi contoh penyesuaian pembelajaran dengan minat para siswa. Mengapa perlu disesuaikan dengan minat? Karena minat itulah yang membangkitkan gairah dan membuat sesuatu menjadi menarik. Pembelajaran yang disertai minat akan membuat siswa lebih antusias atau bersemangat.

4. Prinsip Motivasi

Tanpa adanya motivasi yang kuat, seorang siswa tak akan mau belajar. Motivasi adalah dorongan yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam teori behavioristik, motivasi ini disebut sebagai stimulus atau rangsangan. Motivasi bisa datang dari mana saja, bisa dari siswa itu sendiri maupun dari orang lain seperti guru.

Dalam perencanaan pembelajaran, prinsip motivasi ini sangat penting. Sebab adanya motivasi akan menjadi motor penggerak bagi siswa untuk belajar. Motivasi bisa berupa perkataan guru kepada siswanya seperti nasihat bijak. Atau bisa juga memutarkan film pendek berupa kisah sukses anak-anak yang mengalami keterbatasan tetapi mampu menggapai cita-citanya dengan kerja keras. 

Selain itu, motivasi juga bisa berasal dari pembelajaran itu sendiri. Misalnya karena gurunya sangat baik, humoris, menyenangkan, ditambah penyampaian materinya yang menarik, maka siswanya pun betah belajar. Bisa juga karena banyaknya ulangan atau ujian yang dilaksanakan maka siswanya mati-matian belajar. Atau bahkan gurunya tegas dan tidak memberikan remedial sehingga para siswa yang takut nilai jelek pun belajar dengan sungguh-sungguh.

D. Karakteristik Perencanaan Pembelajaran

Menurut Sanjaya (2013:29), terdapat beberapa karakteristik perencanaan pembelajaran yaitu sebagai berikut.

1. Perencanaan pembelajaran merupakan hasil dari proses berpikir. Ketika seorang guru membuat perencanaan pembelajaran, maka ia tentunya akan merencanakan, merancang, mengonsepkan, dan mempertimbangkan segala apek yang berkaitan dengan pembelajaran. Semua hal tersebut dilakukan dengan berpikir. Merancang pembelajaran tidak dilakukan secara sembarangan, pastinya guru akan berpikir mengenai rencana pembelajaran yang terbaik.

2. Disusun untuk mengubah perilaku siswa sesuai tujuan yang ingin dicapai. Perencanaan pembelajaran tak dibuat begitu saja, melainkan ada tujuannya. Tentunya perencanaan pembelajaran memiliki tujuan yang jelas. Jika nantinya tujuan tak dicapai maka harus ada perbaikan dan perencanaan yang lebih baik lagi.

3. Berisi rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Namanya saja perencanaan maka tentulah harus berisi rencana-rencana yang menjadi petunjuk untuk melaksanakan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran tersebut akan menyuguhkan rangkaian kegiatan yang mesti dikerjakan oleh guru. Jadi, pembelajaran sudah terarah dengan baik.

E. Manfaat Perencanaan Pembelajaran

Ada banyak manfaat yang diperoleh guru dari perencanaan pembelajaran, di antaranya yaitu:

1. Terhindar dari keberhasilan karena nasib baik atau untung-untungan. Kita ketahui bahwa fungsi perencanaan itu sebagai pedoman untuk guru dalam melaksanakan pembelajaran. Tentu saja pedoman itu bertujuan agar pembelajaran berhasil. Nah, coba bayangkan jika pembelajaran tanpa perencanaan, ibaratnya orang yang sedang bepergian tanpa membawa peta. Kemungkinan tersesat tentu akan jauh lebih besar daripada sampai ke tujuan. Kalau kita bernasib baik tentu saja berhasil sampai ke tujuan, tetapi bagaimana jika tidak? Semuanya bergantung pada nasib baik atau untung-untungan 'kan?

Daripada untung-untungan, lebih baik memang betul-betul menyiapkan keberuntungan. Mana kita tahu apakah pembelajaran yang berlangsung akan berhasil atau tidak? Setidaknya jika terdapat perencanaan maka potensi keberhasilan pembelajaran akan meningkat. Dengan begini, seorang guru tak lagi mengharapkan keburuntungan tetapi justru mengupayakan dengan perencanaan.

2. Sebagai alat untuk memecahkan masalah. Masalah pasti akan selalu datang, termasuk pada pembelajaran. Sudah semestinya guru mengantisipasi masalah-masalah yang berpotensi muncul ketika pembelajaran. Agar penyelesaiannya dapat dilakukann sedini mungkin dan antisipasi itu bisa melalui perencanaan.

3. Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat. Berbagai macam sumber belajar dapat digunakan oleh seorang guru dalam menunjang pembelajaran. Namun masalahnya ialah tak semua sumber belajar dapat digunakan sebab harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran termasuk kondisi atau situasinya.

Masalah pemilihan bahan belajar ini dapat dipikirkan oleh guru saat menyusun perencanaan pembelajaran. Guru mesti memilih sumber belajar yang tepat dan sesuai. Sehingga saat berada di kelas sisa dipraktikkan saja.

4. Pembelajaran berlangsung secara sistematis. Dengan adanya perencanaan maka sudah jelas bagaimana arah pembelajaran. Tak akan ada waktu yang terbuang sia-sia karena semuanya telah dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi sistematis atau terstruktur. Misalnya setelah penyampaian pokok materi maka kemudian diadakan diskusi. Setelah diskusi, guru akan memberikan kuis atau bahkan memberikan permainan seputar materi yang telah dipelajari. Tahapan-tahapan tersebut tentu saja membuat pembelajaran menjadi terstruktur, arahnya jelas.

F. Fungsi Perencanaan Pembelajaran

Terdapat beberapa fungsi perencanaan pembelajaran (Wina Sanjaya, 2011) yaitu sebagai berikut.

1. Fungsi kreatif. Kreatif artinya memiliki kemampuan menciptakan hal-hal yang tak semua orang bisa memikirkannya. Adanya perencanaan sebelum melaksanakan pembelajaran nantinya akan memberikan gambaran tentang kelemahan atau kekurangan dari pembelajaran yang dilasanakan.

Nah, dengan gambaran itulah guru dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan begitu, seorang guru akan menyelesaikan setiap permasalahan atau kelemahan yang ada secara kreatif. Bisa saja guru melakukan hal-hal luar biasa yang mungkin orang lain tak sampai memikirkannya.

2. Fungsi inovatif yaitu menghasilkan sebuah inovasi atau hal-hal baru sebab perencanaan pembelajaran yang matang pastinya telah melalui berbagai proses atau tahap yang panjang. Sehingga kesenjangan antara harapan dan kenyataan telah diketahui dan berusaha untuk dituntaskan bahkan penyelesaiannya menciptakan hal-hal baru atau inovasi.

3. Fungsi selektif yaitu dalam perencanaan pembelajaran tentunya harus melalui proses seleksi yaitu memilih dan memilah metode, bahan, dan strategi yang efektif dalam membelajarkan para siswa. Dengan begitu, perencanaan yang dibuat betul-betul maksimal.

4. Fungsi komunikatif yaitu perencanaan yang dibuat harus mampu untuk dijelaskan atau dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang terkait dalam pembelajaran, baik itu kepada siswa, guru lain, bahkan kepada kepala sekolah.

5. Fungsi prediktif yaitu fungsi untuk memprediksi atau memperkirakan mengenai kesulitan-kesulitan atau tantangan-tantangan apa yang nantinya akan terjadi. Serta dapat memprediksi solusi dari permasalahan-permasalahan tersebut.

6. Fungsi akurasi. Akurasi berkaitan dengan ketelitian atau ketepatan. Perencanaan akan membuat pembelajaran berjalan secara akurat atau tepat. Baik itu tepat waktu, tepat sasaran, hingga tepat materi. Semisal akurasi waktu, dengan perencanaan yang matang maka akan membuat pembelajaran terlaksana sesuai dengan waktunya. Tak ada waktu yang terbuang sia-sia dan tak ada cerita guru yang tetap melaksanakan pembelajaran meski telah memasuki waktu istirahat karena memaksakan menyelesaikan materi. Perencanaan akan meningkatkan tingkat akurasi.

G. Kriteria Penyusunan Perencanaan Pembelajaran

Menurut Sanjaya (2013:38), kriteria penyusunan perencanaan pembelajaran ada enam, yaitu:

1) Signifikansi, artinya kebermaknaan. Maksudnya ialah pembelajaran haruslah bermakna atau memiliki arti agar pembelajaran dapat berjalan secara efektif.

2) Relevan, artinya sesuai. Maksudnya pembelajaran haruslah sesuai baik secara internal maupun eksternal. Secara internal, perencanaan pembelajaran haruslah sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Sedangkan secara eksternalnya salah satunya yaitu perencanaan pembelajaran haruslah sesuai dengan kebutuhan siswa itu sendiri.

3) Kepastian. Maksudnya ialah perencanaan pembelajaran itu sifatnya pasti karena berisi langkah-langkah yang dapat dilaksanakan. Jika pun terdapat pilihan-pilihan sebagai alternatif, maka guru haruslah memilih pilihan yang betul-betul dapat dilaksanakan nantinya.

4) Adaptabilitas artinya lentur atau tidak kaku. Maksudnya ialah perencanaan pembelajaran haruslah dapat diimplementasikan di setiap kondisi atau situasi.

5) Kesederhanaan. Maksudnya ialah perencanaan pembelajaran harusnya tak rumit atau tak ribet, alias mudah diterapkan.

6) Prediktif. Maksudnya ialah perencanaan pembelajaran haruslah mampu mempredikasi hasil dari pembelajaran yang terlaksana. Serta mampu memprediksi apa yang akan terjadi ke depannya. Agar kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi bisa teratasi.


BAB III

PENUTUPAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan pada Bab II, maka dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran adalah proses merencanakan dan menetapkan segala hal yang akan dilakukan ke depan terkait pembelajaran dengan tujuan agar proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien. Perencanaan pembelajaran sangatlah penting karena merupakan proses yang bertujuan, terdapat kerja sama, kompleks, dan lain-lain.

Prinsip perencanaan pembelajaran di antaranya yaitu prinsip perkembangan, perbedaan individu, minat dan kebutuhan anak, dan motivasi. Kemudian karakteristiknya meliputi hasil dari proses berpikir, disusun untuk mengubah perilaku siswa sesuai tujuan yang ingin dicapai, berisi rangkaian kegiatan, dan lain sebagainya.

Perencanaan pembelajaran ini sangat bermanfaat agar pembelajaran menjadi efektif. Sedangkan fungsinya yaitu kreatif, inovatif, selektif, komunikatif, akurasi, prediktif, dan lain-lain. Serta kriteria penyusunan perencanaan pembelajaran meliputi signifikansi, relevan, kepastian, adaptabilitas, keserderhanaan, prediktif, dan lain sebagainya.

B. Saran

Saran kami yaitu agar para pembaca menggunakan makalah ini sebagai bahan kajian dalam memahami perencanaan pembelajaran.


DAFTAR PUSTAKA

Ruslan, dan Rusli Yusuf. 2017. Perencanaan Pembelajaran PPKn. Banda Aceh: Syiah Kuala University Press.

Ananda, Rusydi. 2019. Perencanaan Pembelajaran. Medan: Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia (LPPPI).

Posting Komentar

0 Komentar