Ada banyak strategi pembelajaran yang dapat dipilih oleh seorang guru. Namun tak semua cocok diterapkan dalam pembelajaran sebab strategi pembelajaran haruslah disesuaikan dengan berbagai hal seperti kondisi peserta didik. Sehingga guru yang baik adalah guru yang mampu memilih strategi pembelajaran yang tepat dan efektif dalam membelajarkan anak didiknya.
![]() |
| Ilustrasi (gambar dari pixabay.com) |
Untuk memudahkan guru dalam menentukan strategi pembelajaran apa yang digunakan, maka strategi pembelajaran ini perlu dikelompokkan. Pengelompokkannya berdasarkan hal-hal tertentu yang dapat membedakannya dengan strategi pembelajaran yang lain. Dalam tulisan ini, macam-macam strategi pembelajaran dapat dikelompokkan berdasarkan dua hal yaitu berdasarkan jumlah siswa dan berdasarkan bentuk kegiatan.
A. Berdasarkan Jumlah Siswa
Strategi pembelajaran berdasarkan jumlah siswa dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu strategi pembelajaran klasikal, kelompok, dan individual. Berikut penjelasan selengkapnya.
1. Klasikal
Pernah mendengar kata klasikal? Jika belum pernah setidaknya kita pasti pernah mendengar kata klasik, iya 'kan? Biasanya saat mendengar kata klasik maka seketika pikiran kita mengarah pada sesuatu yang sudah tua, kuno, dan telah lama ada. Makna klasik di dalam pikiran kita memang ada kaitannya dengan ciri strategi pembelajaran klasikal ini.
Jadi apa sebenarnya strategi pembelajaran klasikal itu? Strategi pembelajaran klasikal adalah strategi pembelajaran yang telah lama diterapkan dalam pembelajaran yaitu semua siswa dalam suatu kelas diperlakukan sama, mendapatkan materi yang sama, dan dalam waktu yang bersamaan. Kata kunci dalam strategi pembelajaran ini adalah sama.
Siswa di kelas diberikan materi yang sama, oleh guru yang sama, dan di waktu yang sama pula. Strategi pembelajaran jenis ini tentu lumrah ditemui di sekolah-sekolah bahkan mungkin merupakan salah satu strategi pembelajaran yang paling banyak digunakan. Dalam strategi pembelajaran klasikal, peserta didik diasumsikan memiliki kemampuan yang sama. Sehingga dalam pembelajaran mereka mendapatkan perlakuan yang sama.
Untuk mengatasi masalah siswa yang kesulitan memahami pelajaran maka biasanya terdapat remedial (perbaikan) sedangkan untuk siswa yang cepat memahami pelajaran maka mereka juga diberikan pengayaan.
Metode yang digunakan dalam strategi pembelajaran klasikal adalah metode ceramah yang divariasikan dengan metode tanya-jawab. Dalam metode tanya-jawab, para siswa memiliki hak yang sama untuk mengajukan pertanyaan seputar pelajaran yang telah diperoleh serta memiliki hak yang sama untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru.
Keberhasilan strategi pembelajaran ini sangatlah ditentukan salah satunya oleh retorika atau gaya berbicara seorang guru ketika berceramah. Guru haruslah memiliki gaya bicara yang unik, menarik, dan seusaha mungkin tak monoton. Juga sebisa mungkin suara guru haruslah mampu didengar dengan baik dan jelas oleh para siswanya.
Kelebihan strategi pembelajaran klasikal ialah setiap siswa diperlakukan sama, guru lebih mudah mengatur kegiatan murid-muridnya, guru dapat mengatur materi-materi dalam pelajaran secara tepat termasuk mengedepankan materi-materi yang penting untuk dipelajari, dan lain sebagainya. Sedangkan kekurangannya ialah guru memperlakukan sama murid-muridnya padahal setiap murid itu memiliki perbedaan baik dalam hal karakter maupun kemampuan memahami pelajaran.
2. Kelompok
Sebagaimana namanya, strategi pembelajaran kelompok adalah strategi pembelajaran yang membagi para murid ke dalam kelompok-kelompok yang nantinya mereka akan saling bekerja sama dalam mempelajari materi maupun mendiskusikan suatu permasalahan. Kata kunci strategi pembelajaran ini adalah kelompok.
Metode yang biasanya digunakan dalam strategi pembelajaran kelompok ialah diskusi. Siswa di kelas akan dibagi dalam beberapa kelompok, semisal terdapat 25 siswa maka mereka dibagi dalam lima kelompok sehingga masing-masing kelompok terdiri atas lima orang. Kemudian mereka akan diberikan materi maupun suatu permasalahan untuk didiskusikan. Misalnya dalam mapel sosiologi, kelompok 1 diberikan materi kemiskinan, kelompok 2 kriminalitas, kelompok 3 kenakalan remaja, kelompok 3 pengangguran, dan kelompok 5 kesenjangan sosial.
Pembagian kelompok didasarkan pada beberapa pertimbangan. Misalnya dari segi kemampuan, minat, bahkan jarak rumah. Dari segi kemampuan yaitu dilihat dari kemampuan siswa memahami pelajaran dan kemampuan menyelesaikan tugas yang diberikan. Kelompok berdasarkan kemampuan yang baik ialah kelompok yang berisi siswa yang memiliki kemampuan yang beragam. Agar siswa yang cepat paham dapat mengajari teman kelompok mereka yang kurang paham. Namun kelemahannya ialah terkadang hanya yang cepat paham saja yang aktif mengerjakan tugas atau aktif berdiskusi.
Kemudian pembagian berdasarkan minat artinya sesuai dengan keinginan siswa itu sendiri agar nantinya mereka dapat betul-betul berdiskusi sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Kelemahan pembagian jenis ini ialah terkadang para siswa menjadi sulit diatur. Terakhir pembagian berdasarkan jarak rumah, artinya dekat atau jauhnya jarak rumah antar siswa menjadi pertimbangan utama. Tujuannya agar anggota-anggota kelompok dapat berkomunikasi dengan baik tanpa adanya masalah terkait jarak rumah. Utamanya jika kegiatan kelompok yang dilakukan bersifat praktek.
3. Individual
Sesuai namanya, strategi pembelajaran individual adalah strategi pembelajaran yang bersifat perorangan artinya setiap siswa belajar sendiri tanpa tergantung pada orang lain. Kebalikan dari strategi pembelajaran kelompok, strategi pembelajaran jenis ini membuat siswa belajar secara sendiri tanpa adanya kelompok yang dibentuk.
Biasanya metode yang digunakan dalam strategi pembelajaran individual adalah metode penugasan. Siswa diberikan tugas dan mereka harus mengerjakannya secara mandiri tanpa bantuan dari temannya. Tidak boleh berdiskusi apalagi menyontek. Mereka harus mengerjakannya sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Kelemahan dari strategi pembelajaran jenis ini ialah tugas guru semakin berat karena ia harus memperhatikan dan mengurus satu per satu murid-muridnya yang tentunya memiliki kemampuan yang berbeda-beda.
B. Berdasarkan Bentuk Kegiatan
Strategi pembelajaran berdasarkan pada bentuk kegiatan dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu strategi pembelajaran expository dan strategi pembelajaran discovery/inquiry. Berikut penjelasan selengkapnya.
1. Strategi Pembelajaran Expository
Strategi pembelajaran expository adalah strategi pembelajaran yang membuat siswa hanya memperoleh informasi yang disampaikan oleh guru. Artinya informasi yang didapatkan dalam pembelajaran di kelas hanya dari guru saja, berpusat pada guru. Sehingga siswa kebanyakan hanya duduk dan diam mendengarkan gurunya menyampaikan materi pelajaran.
Metode yang termasuk dalam strategi pembelajaran jenis ini di antaranya ceramah dan resitasi (hafalan). Kelebihan dari strategi pembelajaran macam ini adalah lebih hemat biaya dan waktu. Namun kelemahannya ialah kurang mengasah kreativitas dan kemampuan berpikir kritis. Strategi pembelajaran expository dapat dilaksanakan melalui tahapan-tahapan yaitu preparasi (menyiapkan bahan), apersepsi (penyegaran), presentasi (penyajian), dan resitasi (pengulangan).
2. Strategi Pembelajaran Discovery/Inquiry
Strategi pembelajaran discovery atau inquiry adalah strategi pembelajaran yang mengfokuskan pada siswa dalam mencari dan menemukan sendiri informasi pelajaran. Maksudnya ialah materi yang disampaikan oleh guru tidaklah bersifat menyeluruh dan selesai, melainkan terdapat materi yang perlu dicari sendiri, didiskusikan, dan dicarikan jawabannya. Dengan begitu diharapkan dengan siswa mencari materi pelajaran sendiri maka ia lebih lama mengingat materi pelajaran tersebut dibandingkan jika hanya disampaikan oleh guru semata.
Strategi pembelajaran ini akan mengasah kreativitas siswa dan kemampuan berpikirnya dalam menyelesaikan suatu persoalan. Metode yang termasuk dalam strategi pembelajaran jenis ini di antaranya ialah eksperimen. Tahapan-tahapan belajar dari strategi pembelajaran discovery/inquiry ini bersifat ilmiah, yaitu mengajukan masalah, kemudian merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, kemudian menganalisis data, melakukan verifikasi, dan generalisasi (membentuk simpulan).
Unduh power point (PPT)-nya di sini
Sumber Bacaan:
Sumantri, Mohamad Syarif. 2015. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.

0 Komentar
Silakan berkomentar dengan bijak dan santun. Penulis akan segera membalasnya. Terima kasih