Membuat Opak "Kareppe" dari Singkong Gratis

Sudah tiga hari ini saya sibuk membuat opak yaitu penganan yang terbuat dari singkong yang digiling kemudian dibentuk bundar dan dijemur hingga kering. Opak seperti kerupuk, tetapi lebih lebar dan agak keras. Kalau di kampung saya yang bahasanya Makassar tulen, opak disebut kareppe.

Ilustrasi (gambar dari blibli.com)

Awalnya saya tidak berniat untuk buat opak. Lagian keluarga saya tidak memiliki kebun singkong. Tetapi sebagaimana kata orang, sesuatu bisa terjadi karena ada kesempatan. Di pagi menjelang siang itu saya menemukan kesempatan. Ibu berkata bahwa ada singkong di dekat pohon pisang yang berada di kebun tetangga, saya disuruh untuk mengambilnya.

Sesampainya di sana, hahaha, singkongnya lumayan banyak kawan-kawan, untungnya saya bawa karung. Segeralah saya pungut singkong-singkong itu hingga terisi penuh dalam karung, tetapiiiii, ternyata masih banyak singkong di kebun itu yang berserakan dan sebagian tertimbun tanah. Maka saya putuskan setelah membawa sekarung singkong itu, saya bakal menjelajah untuk mencari harta karun, eh salah maksudnya singkong.

Jangan berpikir negatif ya kawan-kawan, singkong yang saya ambil ini hanyalah sisa. Pemiliknya tidak memerlukannya lagi jadi boleh diambil, saya pun sudah minta izin. Jangan berpikir yang bukan-bukan ya, hehehe.

***

Berikut ini tahap-tahap dalam membuat opak yang akan saya jelaskan kepada para pembaca, semoga bermanfaat ya.

Tahap pertama dalam membuat opak adalah pengupasan. Singkong atau ubi kayu dikupas atau dibersihkan dari kulitnya. Kalau ada bagian yang rusak langsung dipotong saja, jangan dibuang keseluruhan. Terus singkongnya dibersihkan dengan air yang bersih tentunya, ya iyalah masa air got, hehe.

Selanjutnya tahap kedua adalah penggilingan. Singkong digiling atau diparut, bisa secara manual atau pakai mesin. Tetapi karena jumlahnya banyak dan capek kalau parut manual makanya penggilingannya pakai mesin saja. Anggap saja dalam rangka memanfaatkan teknologi plus lebih cepat pula selesainya, iya 'kan? Iya dong.

Tahap berikutnya adalah pencetakan. Tapi sebelum ke pencetakan, kalau mau adonan opaknya diberi warna agar lebih cantik juga tidak masalah, biasanya sih pakai warna merah layaknya cintamu padanya yang merah merona, cie. Baiklah lupakan cinta-cintaan, kita lanjut ya.

Adonan opak dicetak atau dibentuk menjadi bundar, lazimnya bundar tapi bisa juga bentuk lain. Cara membentuknya cukup ditekan-tekan dengan jari hingga berbentuk bundar. Jangan lupa alasi dengan plastik bening ya. Terus tinggal dikukus hingga matang. Tidak usah lama-lama kukusnya, seingat saya waktu pengukusannya sangat cepat, kalau orang Makassar sih bilang "Sipakkida mata ji".

Tahap terakhir adalah pengeringan. Keringkan di bawah sinar matahari, lebih terik lebih bagus supaya cepat kering. Kalau cuaca panas, cukup dijemur sehari saja, tetapi kalau cuaca sedang tidak bersahabat bisa hingga beberapa hari.

Opak yang sedang dijemur (dokumen pribadi)

Opak buatan ibu saya ada dua jenis, ada yang polos atau biasa dan ada pula yang diberikan potongan daun bawang, daun jeruk, cabai, dan berbagai daun-daunan maupun rempah-rempah yang bisa menguatkan rasa, dalam bahasa Makassar opak jenis itu disebut kareppe bale. Opak jenis tersebut tidak perlu ditambahkan apapun ketika disantap sebab sudah memiliki rasa dari rempah-rempahnya. Sedangkan opak yang polos biasanya diberi gula merah cair ketika ingin disantap.

Sayangnya kawan-kawan, kebun tempat saya mengambil singkong kini ditanami singkong pahit alias jenis singkong yang tidak bisa dimakan kata orang-orang. Alhasil nanti tidak ada lagi kesempatan untuk membuat opak deh, hihihi. Meski demikian, harus selalu bersyukur ya. Di masa ini saya bisa membuat opak dari singkong gratis dan bisa berbagi kepada tetangga maupun sanak saudara. "Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?"

Posting Komentar

0 Komentar