Saya keluar dari masjid setelah menunaikan salat tarawih dan witir secara berjamaah, seperti biasanya di bulan ramadan masyarakat di kampungku melaksanakan salat tarawih secara berjamaah, mungkin sudah menjadi kebudayaan yang mendarah daging. Ketika saya melangkah bersama jemaah hendak pulang, tiba-tiba ada yang memanggilku "Haris." Siapa yang memanggil ya, batinku. Saya tak mengacuhkan suara itu, namun kembali terdengar seseorang memanggilku "Haris." Saya berbalik menoleh ke belakang, ternyata seorang lelaki yang tampaknya seumuran dengan saya. Saya dekati dan pandang secara saksama, oh ternyata Ikram, teman lamaku waktu di SMP dulu.
"Hai Ikram, lama tak berjumpa, ada apa? Ikut salat juga di sini?" Tanyaku berbasa-basi. Kami pun mengobrol, saya menepi di jalan depan masjid supaya lebih nyaman berbincang-bincang. Ikram bercerita kepadaku bahwa dia punya niat untuk menjadi imam salat tarawih di masjid itu selama bulan ramadan. Ceritanya nih dia ingin mengamalkan ilmunya selama memondok di pesantren dan khususnya hafalan Al-qur'annya, Masyaallah.
Dia pun bertanya, "di mana imam masjidnya?" "Itu di dalam masjid, tampaknya lagi menghitung uang celengan, namanya Haji Daeng Talle," jawabku. Saya mempersilakan Ikram masuk ke masjid bertemu Haji Talle untuk menyampaikan keinginannya itu. Namun dia ternyata pemalu, memaksa saya untuk menemaninya, saya jelas menolaknya, masuk saja sendiri, saya tidak mau masuk ke dalam, malulah, hehehe. Karena Ikram memaksa terus, akhirnya saya temani juga dia masuk, yuk deh kita masuk.
Setelah berbincang-bincang dengan Haji Talle maka disepakatilah bahwa Ikram mulai besok akan memimpin salat tarawih. Wah, luar biasa. Sejak saat itu, salat tarawih yang dilaksanakan di masjid depan rumahku selalu Ikram yang menjadi imam salatnya, namun jika dia berhalangan hadir maka seperti biasanya Haji Talle yang akan bertugas memimpin salat.
Tahukah kalian, Ikram punya suara yang merdu sekali. Suaranya semerdu suara azan orang-orang Arab sana. Saya serius, bahkan pernah saya dengar ibu dan nenekku membicarakannya dengan mengatakan bahwa dia punya suara yang bagus, wah, saya bangga punya teman seperti dia.
![]() |
| Ilustrasi (gambar dari pixabay.com) |
Kadang saat malam hari sesudah melaksanakan salat berjamaah di masjid saya sering keluar rumah dengan membawa laptop, niatnya sih mau menonton video youtube. Suatu ketika Ikram menghampiri saya, saya heran, kok jam begini dia belum pulang ke rumahnya ya? Saya yang penasaran lantas mempertanyakannya, ternyata tak terduga, dia rupanya menjadi guru mengaji di malam hari, pantasan sampai jam begini dia masih ada di Pacellekang padahal rumahnya lumayan jauh lo yaitu di Bangkala, Desa Jene Madinging.
Temanku ini pernah bertanya kepada saya, mengapa kamu tidak memimpin salat tarawih berjamaah, Ris? Saya jawab dong bahwa ilmu saya belum memadai, apalagi bacaan Al-qur'anku belum bagus, saya harus banyak belajar lagi. Dia hanya mengangguk. Ya begitulah, letak rumah saya tepat berada di depan Masjid Babussalam (nama masjidnya) maka tak ayal banyak yang berharap suatu saat nanti saya bisa memimpin salat berjemaah, bahkan Haji Talle sendiri sebenarnya menginginkan supaya saya menjadi protokol setiap malam tarawih, tetapi rasa-rasanya saya belum pantas mengemban amanah tersebut.
Malam silih berganti, tak terasa Ramadan sudah meninggalkan ditandai dengan suara takbir yang bersahut-sahutan serta cahaya kembang api yang tampak menghiasi langit. Ramadan telah meninggalkan kami, dengan sejuta kenangan di dalamnya. Jika ada umur yang panjang kami bisa kembali bertemu dengan bulan suci Ramadan tahun depan namun belum tentu kami bisa bertemu dan salat bersama di bulan Ramadan berikutnya. Ya, dia berencana akan berangkat ke Malaysia, rencananya dia akan kuliah di sana. Sebagai temannya saya ikut berbahagia mendengarnya.
***
Cerita ini terjadi setahun lalu, ketika pandemi belum melanda negeri ini. Saya mengenang ramadan tahun lalu saat Ikram masih ada dengan suka cita. Kenangan itu semakin bersemayam dalam pikiranku terlebih ketika harus menerima kenyataan bahwa ramadan tahun ini amat berbeda ketimbang ramadan lalu-lalu.
Bukan hanya karena Ikram tidak lagi menjadi imam salat tarawih saat itu namun juga karena pandemi yang melanda telah mengubah banyak hal. Mulai dari tiada salat tarawih berjemaah di masjid, tiada suara nyaring anak-anak yang berbuka puasa di teras masjid, bahkan masjid tampak gelap layaknya bangunan yang tak berpenghuni di malam hari, sunyi, lengang, karena ditutup sementara oleh pemerintah.
Sebuah pesan masuk di beranda facebookku, awalnya saya tidak peduli, namun mungkin itu pesan yang penting, pikirku. Saat saya buka, ternyata pesan dari Ikram. Hahaha, dia meminta no whatsapp saya. Kami pun akhirnya saling berbagi kabar lewat whatsapp. Dia bercerita bahwa kini dia berada di Malaysia tepatnya di Serawak. Dia menjadi imam masjid di sana, Masyaallah, saya kagum padanya.
Ketika saya berkata bahwa Serawak itu letaknya berada di Pulau Kalimantan, satu pulau dengan Kalimantan Indonesia, seketika dia bilang bahwa Serawak bukan di Kalimantan, tetapi di Malaysia. Hahaha, saya tertawa, siapa juga yang bilang Kalimantan, saya bilang Serawak ada di Pulau Kalimantan, namanya itu Malaysia Timur, dekat dengan Brunei Darussalam. Dia mengiyakan perkataan saya dengan berkata "iya, dekat Brunei." Hahaha, baru tahu dia, meski saya tidak pernah ke Malaysia tetapi saya tahu letaknya, saya 'kan nak Geografi, sering lihat peta. 😂
Ya begitulah cerita pertemanan kami. Saya tidak pernah membayangkan akan kembali berbagi kabar dengan teman saya itu. Berjumpa dengannya saat bulan ramadan tahu lalu pun tak pernah saya duga sebelumnya. Saya kira dia sudah melupakan saya ternyata dia memang teman yang baik, tak pernah melupakan teman SMP-nya dulu.
Semoga sehat selalu temanku, Ikram. Jangan bosan-bosan berbagi kabar dan cerita kepadaku. Sungguh, saya senang bisa berteman denganmu. Teman yang menginspirasi. Semoga kamu mendapatkan yang terbaik. Tetaplah rendah hati dan hiduplah di negeri orang layaknya peribahasa "di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung." Semoga kebahagiaan senantiasa menyertaimu temanku.

0 Komentar
Silakan berkomentar dengan bijak dan santun. Penulis akan segera membalasnya. Terima kasih