Di pedalaman Sumatra, hutan lebat nan gelap, bukit barisan, dan sawah-sawah tadah hujan, seorang anak lelaki dibesarkan. Bujang namanya, dilahirkan di sebuah kampung nun jauh lagi terpencil.
Ayahnya selalu mengatakan bahwa ia penakut, mendidik Bujang dengan keras, mungkin agar Bujang paham akan kerasnya kehidupan yang dijalani. Sebaliknya, ibunya adalah sosok yang penyayang, menanamkan rasa kasih, dan terkadang mengajarkan agama kepadanya, meski secara sembunyi-sembunyi, mengapa? Karena ayahnya melarang ia belajar agama.
![]() |
| Gambar dari rosedianaa.com |
Di suatu hari, rombongan dari kota datang untuk berburu babi hutan. Tampak asing bagi Bujang, namun tidak bagi ayahnya, ketua rombongan tersebut ternyata sahabat karib ayahnya. Dilaksanakanlah perburuan babi hutan, Bujang ikut serta berburu.
Di malam yang gelap, perburuan tak kunjung selesai. Menelusuri lebih dalam hingga bertemulah mereka dengan para babi yang berukuran besar. Babi-babi tersebut tak mudah ditaklukan, perlawanan sengit diberikan, hingga yang tersisa hanyalah Bujang, yang lain sudah tak berdaya lagi penuh luka amukan babi. Di waktu itulah jiwa “berani” Bujang terpancar, babi-babi itu akhirnya ditaklukan, cerita perjalanan Bujang pun dimulai.
***
Cerita tersebut dapat kita baca dalam buku yang berjudul Pulang karya Tere Liye. Buku tersebut bercerita tentang seorang anak pedalaman yang berhasil menjadi seorang tauke. Begitu banyak konflik dan adegan dramatis yang diceritakan. Alur ceritanya zig-zag sehingga tak mudah ditebak.
Andai cerita dalam buku tersebut diangkat menjadi sebuah film pasti sangat seru. Mungkin saja akan menjadi film yang hebat. Genrenya action, dan bakal banyak menampilkan adegan pertarungan yang menegangkan.
Makna “pulang” dapat kita temukan dalam cerita tersebut. Setidaknya ada dua makna pulang yang saya tangkap selepas membaca buku tersebut. Apa itu?
Pertama, pulang ke kampung halaman. Mungkin seperti tradisi mudik yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia. Sejauh manapun kaki melangkah, sesukses apapun di tanah rantauan, pantang melupakan kampung halaman, tanah kelahiran, kira-kira seperti itu makna yang pertama.
Kedua, pulang kepada kebenaran. Dibesarkan di lingkungan keluarga tauke memang penuh dengan kejahatan, tukang pukul yang beringas, harta yang haram, dan berbagai tipu muslihat, meski demikian, cahaya kebenaran masih ada, mengetuk hati Bujang dan menggetarkan relung jiwanya untuk pulang kepada kebenaran Tuhan.
Buku Pulang tidak hanya menyuguhkan cerita yang apik nan menawan, namun juga dibalut dengan pesan moral yang dalam. Buku yang patut dibaca. Karya yang hebat Tere Liye, good job. Sekian.

0 Komentar
Silakan berkomentar dengan bijak dan santun. Penulis akan segera membalasnya. Terima kasih