Kisah Cinta Sang Gadis Berkepang Dua

Cinta adalah misteri, mengundang banyak tanya, teka teki, masa sih? Definisinya membingungkan, cakupannya luas. Cinta terkadang datang dengan begitu saja, merekah di dalam hati. Tumbuh dan mewarnai sendi-sendi kehidupan. Cinta dapat menenteramkan hati meski kesulitan hidup memilukan, cinta membuat terlena dengan keindahan, sok bijak

Meski indah, namun kadang cinta menimbulkan kesedihan yang teramat dalam, luka nestapa, merenggut kehidupan, sedih amat. Ada banyak kasus bunuh diri, membunuh kekasih disebabkan oleh cinta yang membutakan. Logika tak berjalan lagi, hati tak berfungsi, buta. Cinta yang merah merona, dapat seketika menggelapkan rasa, berujung sadis, tragis, ih syerem!

Cinta bagaikan angin, kau tak akan pernah bisa melihatnya, tetapi kau bisa merasakannya. Cinta bagaikan air, mengalir ke tempat terendah yaitu ketulusan. Cinta itu lagi-lagi misteri, datang dan hilangnya tak pernah terduga, sok pintar, hehehe.

***

Seorang gadis mungil dengan adiknya, berpakaian kucel, bernyanyi dari satu bus ke bus berikutnya, dari satu metromini ke metromini berikutnya, sambil memukul kencrengan, bernyanyi dengan riang, gaya bernyanyi anak-anak namun lagunya dewasa, Oh My God!

Tania, nama yang indah, matanya misterius, unik, seperti kisah cintanya, asik. Di sebuah bus tempatnya mencari sesuap nasi, kemalangan datang, kaki kecilnya tertusuk paku payung. Dia menahan perih, darah memancar, tetapi orang-orang di bus tak peduli, kasihan banget. Hingga seorang pria menolongnya. Ya, pria itu berparas menyenangkan, berhati mulia. Membalut lukanya dengan saputangan, mungkin juga membalut hati gadis itu, eaaaa.


Ilustrasi (dokumen pribadi)

Kisah itu belumlah selesai, kisahnya dengan pria itu terus berlanjut, hingga tanpa disadari rasa itu pun tumbuh, cieeee. Bisa dikatakan cinta, namun dapat pula hanya sebatas kagum, tetapi satu yang pasti, perasaan itu terus tumbuh. Seorang gadis kecil yang menaruh hati pada seorang pria atas kebaikan hatinya, pria dewasa. Ah, cinta memang tak memandang usia. ^_^

Pria itu merengkuhnya dari kehidupan jalan yang kotor dan hina, menjanjikan masa depan yang lebih baik, pokoknya dimatanya, pria dewasa itu adalah malaikat bagi hidupnya, eaaa. 

***

Hal yang nyaris tidak mungkin terjadi di dunia nyata, bukan? Ih, siapa bilang? Bagaimana bisa seorang gadis kecil berkepang dua menaruh hati pada seorang pria dewasa? Sungguh absurd! Nggak juga sih. Karena ketidakmustahilan itulah yang membuat novel tersebut berbeda dari yang lain, celius?

Novel yang berjudul Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin ini menyuguhkan kisah cinta penuh dilema seorang gadis kecil bernama Tania dengan seorang pria dewasa bernama Oom Danar, masa sih? Cinta bersemi di antara mereka, namun karena perbedaan usia yang teramat, cinta itu pun terpaksa dipendam, dimusnahkan, dianggap sebagai kesalahan, menyedihkan. 

Jujur, saya tak suka membaca novel, apalagi berkisah tentang asmara. Buku itu saja saya pinjam dari teman, hehehe, awalnya saya pikir buku itu tentang inspirasi, ternyata tidak, cukup kecewa sih, kasihan. Perlahan, karena waktu luang, saya pun tergerak untuk membacanya. Menyaksikan sosok Tere Liye (sang penulis) menjelma menjadi gadis mungil dalam buku tersebut, wah, sangat menarik. Upss, Tere Liye itu laki-laki ya, saya kira hmmm

Kisah cinta gadis itu pun diselesaikan dengan akhir yang cukup menyedihkan. Saya berharap gadis itu akan bersatu dengan jantung hatinya, sang pria dewasa. Namun sayang, ikatan suci telah mengikat, perasaan gadis itu sia-sia, sosok malaikatnya telah ada yang punya, aduh bikin sesak di hati. Padahal andai saja sang pria berani mengungkapkan perasaannya, saya yakin akhir cerita tersebut tak ‘kan menyedihkan, sok tahu

Ada banyak pelajaran penting yang dapat diambil dari buku tersebut, apaan tuh? Satu hal yang membekas di pikiran saya yaitu sebagai pria kita sudah seharusnya peka terhadap perasaan wanita, jangan pernah menumbuhkan cinta di hati wanita jika itu hanya akan menyakiti, dengerin tuh! Hmmm, semoga saja di kehidupan saya tak ada sosok Tania yang terluka hatinya akibat saya yang kurang peka dan susah mengungkapkan perasaan, hahaha. Sekian.

Posting Komentar

0 Komentar