Hidup Adalah Sebuah Pilihan

Seringkali banyak orang yang mengutuk hidup, mereka mengumpat atas kemalangan yang terjadi. Menyalahkan Tuhan karena hidupnya serba kekurangan, menyalahkan Tuhan karena hidup dibayang-bayangi kesengsaraan. Bukannya banyak bersyukur dan berusaha memperbaiki hidup justru malah banyak mengeluh dan mengutuk takdir.

Hidup adalah sebuah pilihan. Mau jadi apa kita tergantung dari bagaimana ikhtiar yang dilakukan. Tuhan tidak serta-merta memberikan kekayaan dan kesuksesan, perlu usaha yang menyertai. Dalam agama Islam, kita mengenalnya sebagai takdir muallaq yaitu takdir yang meski telah ditentukan oleh Allah Swt tetapi masih bisa diubah dengan usaha dan izin-Nya.

Ilustrasi (gambar dari pixabay.com)

Untuk memahami bahwa hidup adalah sebuah pilihan, berikut ini sebuah cerita bijak tentang dua bibit tanaman yang dikutip dari nibbana.id semoga kita dapat memetik hikmahnya.

Ada 2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama berkata, “Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku dalam-dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku”. Dan bibit itupun tumbuh makin menjulang.

Ilustrasi 2 (gambar dari pixabay.com)

Bibit kedua bergumam, “Aku takut, jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu apa yang akan kutemui di dalam sana. Bukankah di sana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku ke atas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku pasti akan terkoyak.”

"Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha mencabutku dari tanah. Tidak. Akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman.” Dan bibit itupun menunggu dalam kesendiriannya. Beberapa pekan kemudian seekor ayam mencari makan di tanah itu, menemukan bibit kedua tadi dan mencaploknya segera.

***

Dalam cerita bijak itu kita bisa mengambil pelajaran hidup. Apapun yang kita lakukan saat ini akan memengaruhi masa depan sebagaimana yang dikatakan Catherine Pulsifer, "Hidup menyajikan banyak pilihan, pilihan yang kita buat akan menentukan masa depan kita." Ketika kita menanam kebaikan hari ini maka esok lusa beribu-beribu kebaikan akan kita panen, begitu pula sebaliknya.

Hidup adalah sebuah pilihan. Jika kita bekerja keras, berusaha di masa muda, maka di masa tua tinggal menikmati jerih payah kita dahulu. 

Bibit pertama adalah sosok yang penuh optimis, dia memandang hidup layaknya pertarungan, tak peduli apakah nanti akan kalah atau menang, bertahan atau tersingkir, yang penting melakukan sesuatu dengan semaksimal mungkin. Di dunia nyata orang seperti itu adalah orang yang hebat dan berjiwa usahawan. Berani mengambil keputusan dengan segala konsekuensi yang menyertainya.

Sedangkan bibit kedua adalah sosok yang pesimis. Memandang hidup saja ia tak sunggup, ada ketakutan dalam dirinya sewaktu-waktu impiannya tidak terwujud. Ketakutan yang berlebihan itu membuatnya takut melangkah, takut mengambil keputusan, sampai pada akhirnya ia menyerah sebelum melakukan apa-apa. Orang seperti itu dalam dunia nyata tak bisa dijadikan panutan atau pemimpin. Mereka kebanyakan hanya menjadi pengekor, bukannya pelopor. Enggan keluar dari zona nyamannya, dan terlalu banyak pertimbangan. Belum apa-apa nyalinya sudah ciut, akhirnya tenggelam pada pikiran negatifnya sendiri.

Mari merenung dari lubuk sanubari kita. Apakah kita termasuk bibit pertama atau bibit kedua? Atau mungkin bukan kedua-duanya? Apapun itu, saya berharap kita semua menyadari bahwa hidup ini adalah takdir yang telah digariskan Tuhan, tetapi di samping itu juga sebagai pilihan. Terdapat ketentuan yang bisa diubah dengan usaha disertai izin-Nya.

***

Saya masih mengenang ketika mengetahui saya lulus di UIN Samata pada program studi manajemen haji dan umrah. Ada banyak yang tersingkir saat itu, saya adalah orang yang beruntung karena mampu lulus di antara ribuan pendaftar. Waktu itu saya merasa bahwa kuliah di sana adalah takdir yang telah ditetapkan Tuhan, namun hidup adalah sebuah pilihan. Tahun 2019 silam saya memutuskan untuk tidak melanjutkannya, saya memilih mendaftar di Unismuh.

Di kampus biru itu saya merasakan atmosfer yang berbeda. Saya merasa nyaman menjalani tahapan-tahapan sampai akhirnya saya dikukuhkan sebagai mahasiswa baru. Sepenggal kisah saya menunjukkan bahwa hidup bukanlah tentang kepasrahan. Kita tidak boleh pasif begitu saja, hidup itu pilihan maka kita hidup dengan pilihan tersebut. Bisa saja saya menjalani kuliah di UIN waktu itu, apalagi jaraknya dekat. Namun saya memilih berkuliah di Unismuh, meninggalkan "keberuntungan" yang dielu-elukan orang dan berjuang menggapai mimpi saya menjadi seorang guru.

Kisah yang lain datang dari teman saya bernama Sinta Westika. Dia lulus di Unhas, dia beruntung bisa lulus di sana, sebagai kampus yang tersohor di Indonesia, tak mudah beralmamater Unhas. Perlu perjuangan besar dan niat yang kuat, tanpa itu semua kuliah di sana hanya mimpi belaka.

Teman saya ini benar-benar lulus. Namun ketika saya berbagi kabar lewat WhatsApp belakangan ini dia bercerita bahwa sekarang dia berada di Jawa. Dia meninggalkan kesempatan untuk kuliah di Universitas terbaik itu dan memilih bekerja. Baginya tak masalah, keputusannya sudah bulat, dia merasa menikmati setiap proses yang dia jalani. Di tanah Makassar ini saya membatin "hidup memang sebuah pilihan."

***

Dalam menjalani hidup kita tidak akan terlepas dari sebuah pilihan. Dari kita bangun sampai tidur kembali pilihan senantiasa menyertai. Ketika kita bangun pagi misalnya, kita bisa saja berolahraga seperti melakukan joging atau mungkin kita bisa sekedar berjalan-jalan santai di luar rumah sembari menghirup udara segar. Namun kita tidak melakukannya, justru segera mengambil gawai dan membuka media sosial. Barangkali Dr. Kathleen Hall benar, "Dalam setiap hal yang kamu lakukan, kamu memilih suatu arah. Hidupmu adalah hasil dari pilihan-pilihan."

Semoga setiap pilihan yang kita ambil adalah yang terbaik yang Tuhan telah takdirkan. Semoga terselip rasa bahagia dan optimisme atas setiap pilihan yang kita pilih dalam hidup ini. Karena hidup adalah pilihan maka pilihlah untuk berbahagia, jangan menempuh kesedihan. Karena hidup adalah pilihan maka berusahalah semaksimal mungkin jangan acuhkan suara-suara sumbang yang ingin mematahkan tekad kita. Karena hidup adalah pilihan maka jadilah yang terbaik, terbaik di dunia dan terlebih lagi terbaik di akhirat kelak dengan menjadi hamba yang taat dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri ... (QS. Ar-Ra’d:11)

Sumber Bacaan:

Posting Komentar

0 Komentar